Tulisan

Sepatu

October 15, 2014

Untukmu yang sedang mendekati-Nya.
Aku kira analogi sepatu yang kuciptakan dulu, sudah cukup mewakili deskripsi untuk menggambarkanmu. Ku kira kau seperti sepatu favoritku yang sudah pasti akan ku ajak kemanapun aku pergi. Entah sekedar aktivitas sehari-hari ataupun liburan keluar negeri.

Untukmu belahan jiwaku yang telah Tuhan siapkan jauh sebelum aku sadar makna kehidupan.
Dimasa penantian ini, aku yakin kau sedang mempersiapkan diri untuk bertemu denganku. Kau pastilah sangat mencintai Tuhanmu, sehingga kau menunggu momen terbaik sembari memantaskan diri untuk dipertemukan denganku. Aku pun begitu. Dalam rajut doaku pada Tuhanku, selain untuk kedua orang tuaku, adikku serta keluarga besarku, kuselipkan namamu. Nama yang bahkan aku belum tahu siapa. Nama yang telah Tuhan siapkan, namun belum diperkenankan untuk dipersatukan.

Untukmu calon imamku dan keturunan kita.
Analogi sepatuku tak bermaksud untuk merendahkanmu dengan meletakkanmu dibawah kakiku. Aku tak menganalogikanmu sebagai hijab yang kuletakkan diatas kepala. Karena, asal kau tahu saja, setiap hari aku selalu berganti warna hijab, sesuai dengan mood yang aku rasakan dan warna pakaian yang kugunakan. Terkadang di kala bosan melanda, beberapa koleksi hijabku kuberikan kepada orang-orang terdekat. Sedang sepatu favoritku, tentu tidak. Akan kugunakan ia setiap hari, sepanjang waktu, selama aku beraktivitas. Aktivitas apapun! Entah ke pasar, kondangan, kantor, masjid, mall, restoran atau hotel mewah, bahkan ke tempat kumuh sekalipun. It fits me a lot, Dear! Disitulah aku berekspektasi lebih tentangmu. Aku berekspektasi cukup kau yang membuatku nyaman sepanjang hari, menemaniku di segala waktu, segala tempat dan segala urusan.

Untukmu yang kucintai karena Tuhanku.
Beberapa bulan yang lalu hatiku patah, patah karena sepatu yang kujadikan analogi untukmu ternyata patah. Ya, sol bagian bawah sepatu kananku patah. Entah apa yang sudah kuperbuat padanya. Aku selalu menjaganya. Menjaganya ketika aku berjalan di tanah yang tidak rata, mengajaknya berjalan sedikit cepat bahkan berlari. Aku selalu ingat untuk menjaganya, tapi entah mengapa ia masih tetap patah. Satu pesan yang seorang teman ajarkan padaku, “Ketika rusak perbaikilah, bukan mencari yang baru sebagai pengganti. Takkan kau temukan yang sama persis seperti itu.” Dan ia menambahkan, “Aku yakin diperjalananmu berikutnya, kamu akan lebih bijaksana dibanding saat itu.”

Untukmu yang merubahku perlahan dan mendekatkanku pada Tuhanku.
Aku memiliki kisah sepatu favorit lain sebelumnya, dimana aku terlalu terburu-buru memakainya sehingga tanpa sengaja kaki kiriku menginjak tali pengait sepatu bagian kanan hingga terlepas dari jahitannya. Pada saat itu aku tak berpikir panjang untuk membuangnya keesokan hari. Dengan asumsi, aku akan menemukan model yang serupa di tempat aku membelinya dulu. Masih kuingat lokasi persis aku membeli sepatu itu, stand, bahkan rak susun tempatnya dulu. Saat pulang ke Surabaya dan menyusuri rak tersebut, aku tak dapat menemukannya. Setelah mencari tahu cukup lama, ternyata sepatu tersebut sudah tidak di produksi lagi. Tak habis akal, sekembalinya ke Jakarta aku tetap mencari di gerai yang sama berharap stok di Jakarta masih ada. Namun hasilnya nihil.
Aku menemukan penggantinya berbulan-bulan kemudian, hampir setahun malah. Yang baru ini lebih kokoh, lebih halus dan tentunya lebih nyaman. Pun ternyata tak bertahan lama. Belum setahun penuh menemaniku melangkah, namun telah membuat hatiku patah.

Untukmu penyempurna separuh agamaku.
Tapi aku belajar. Iya aku belajar dari patahnya sol sepatu favoritku. Belajar dari sakitnya hati ketika sesuatu yang disuka, yang telah menemani sehari-hari, ternyata tetap ciptaan manusia. Yang tidak sanggup bertahan dengan segala bentuk kesukaran. Aku belajar menerima, belajar menerima fakta. Belajar untuk tidak mencintai secara berlebihan, terutama mencintai benda mati yang merupakan buatan manusia. Aku yakin mencintai ciptaan-Nya akan jauh lebih berat godaan, cobaan, ataupun ujian dari-Nya. Satu hal yang ingin kuminta darimu nanti, ketika aku mencintai ciptaan-Nya secara berlebihan, ingatkan aku untuk berpaling pada Tuhan kita. Sang Maha Pencipta, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Untukmu pembimbingku menuju surga-Nya.
Jangan kau kira aku tidak berusaha untuk memperbaiki sepatuku itu. Tapi harga dan hasil yang ditawarkan tidak sebanding dengan resiko kedepannya. Selain jenis bahan yang digunakan akan berbeda, tinggi antara sepatu kanan dan kiri dipastikan tidak akan sama. Jadi apa gunanya diperbaiki jika kanan dan kiri tidaklah sama. Bukannya jika kita berjalan bersama, kita ingin berjalan dengan visi dan misi yang sama. Aku meninggalkannya di Surabaya, untuk mengurangi rasa kecewa yang timbul karena kesalahan yang kuperbuat sendiri. Sekembalinya di Jakarta, dengan beberapa teman, aku membeli sepatu yang cocok dipakai untuk bekerja ataupun sekedar jalan-jalan. Karena masih baru dan kaku, ketika kupakai bagian belakang sepatu itu menggores kulit diatas tumitku hingga sedikit berdarah. Kurasa hal itu terjadi sebanding dengan harga yang kubayar, sehingga kualitas kenyamanan serta perlindungan untuk kaki pun tidak seperti sepatu-sepatu favorit sebelumnya.
Kita tidak dapat memaksakan sepatu lari yang semahal apapun untuk dapat digunakan pada pesta pernikahan seorang teman bukan. Atau sepatu dengan jenis high heels yang mewah untuk diajak berbelanja ikan, sayur dan daging di pasar. Dan pada akhirnya aku sadar, bahwa sepatu yang baik adalah yang sesuai peruntukannya. Bukan karena kenyamanan yang sesaat ataupun paksaan. Karena sesuatu yang dipaksakan melebihi batasnya, hasil akhirnya seperti sepatu favorit saya yg sebelah kanan itu πŸ™‚

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply