Tulisan

To The Man I Used to Care The Most

April 10, 2020

“Hey, how’s life after me?”

“Hancur, putus asa, hilang arah. Kalau itu jawaban yang kamu harapkan, maaf, engga. I have learned my mistakes. Tapi, ditakdirkan ketemu kamu, menghabiskan waktu yang ga sebentar, uda cukup membuka mata. Ternyata, ekspektasi ga akan bisa direalisasi tanpa aksi.”

“Bagus deh, kalo kamu baik-baik aja, karena aku engga.”

“Sabar ya. Pasti bisa.”

Setelah ribuan purnama menghilang, tiba-tiba muncul nanya kabar yang bener aja cuy. Pas ketemu, pake salah tingkah segala. Dari perjalanan yang sudah di tempuh sejauh ini, You’re my favorite person, I’ve ever met!

Ya gimana ga favorit coba, kenal di masa-masa labil menuju stabil (emosinya hehe…). Mulai ngerti salah dan benar di mata orang lain, ga lagi pake sudut pandang diri sendiri. Belajar arti empati dan simpati. Mulai ngerti apa yang namanya proses. Banyak banget deh yang dipelajari dan semuanya bermanfaat. Tapi, satu hal yang kelewat yang bikin hubungannya ga berhasil dulu. Tentang penerimaan.

Demanding/ Controlling
Dalam suatu hubungan, harusnya aku sadar bahwa masing-masing manusia diciptakan dengan keunikan tersendiri. Kadang kita dipertemukan dengan seseorang yang karakternya beda banget sama kita. Kalo karakternya mirip, jadiin temen! Sumpah bakalan awet temenannya.
Memiliki hubungan dengan karakter yang beda banget sama kita, kadang bikin kita tergoda buat mengubah sosok tersebut menjadi sosok yang kita inginkan. This is bad! Kalo uda mulai kaya gitu, take a step back and remember why you fell in love with this person in the first place. If I’m not mistaken, he was for the most part carefree and funny, but sometimes his jokes start to drive me nuts kadang sampe mikir banget karena ga paham. I have to remember that I love that he can make me laugh and that he has such a positive outlook on life.

Self-Centered
This kind of character bener-bener aku banget deh (dulu :p). Mudah-mudahan sekarang uda engga lagi atau paling ngga, uda berkurang. A person who tend to be consumed with their own thoughts and concerns. They are not good at actively listening to others or curious enough to ask conversational questions. They lack empathy and interest in you and tend to make you feel insecure and unimportant. I will not describe this in details hehe… ntar jadi semacam ngebuka luka lama *eaa.. Kok bisa aku segitunya dulu ckckck…

Expecting Perfection
We are all human. We all make mistakes. I was put you to some unrealistically high expectation. This is especially hard for those who hold unrealistically high expectations for themselves, but that’s another topic altogether.
We all have a “perfect” image in our minds of what a partnership is, and usually it is pretty far from reality. Adjust your expectations to be realistic and fair. If you do not take this hard look at yourself, and make this change, you are setting your relationship up for disappointment, and your partner for letting you down when they have done nothing wrong.

Avoiding Confrontation
Fighting is not the way most of us want to spend our time, so it can be tempting to just brush all of the problems under the rug. The flaw with that plan is that the problems collect and multiply. This will ultimately end up in an explosive argument, or a parting of ways with the other person baffled as to what went wrong. Communication is huge in any relationship and should not be avoided.

Ibu Cari yang Gati
Lho? Wait, I don’t even know what ‘Gati’ is. (That time). Mempelajari diri sendiri sama memahami diri sendiri aja belum bener, lalu untuk menjadi ‘Gati’ itu bagaimana ceritanya. Vocab baru denger, apalagi definisinya mana tau. Long story short, mudah-mudahan Ibu uda nemu yang gati ya 🙂

Ah, how I wish I could turn back the time. Bukan karena ingin mengulang, cuman pengen bilang di kesempatan yang dulu, betapa bersyukurnya di kasih periode waktu buat ketemu, kenal dan ga nyangka ultimate goal-nya tercapai, bukannya kenal kamu lebih baik malah aku yang akhirnya mengenali diri sendiri (*mendadak ada backsound Hindia – Mata Air). Terus tiap ketemuan dulu harusnya, aku selalu bilang ‘How I really appreciate kamu yang selalu ada, selalu sabar, mau ngasih tau mana yang bener, mana yang salah’. Bahkan urusan kecil tentang ngabisin makanan, walopun ga enak. Makan jangan disisain, makan makanan yang di suka aja, yang ga suka jangan di pesen. Aku nerima kamu apa adanya, gendut gapapa, makannya banyak, nyemil teros (*eh ini episode yang lain, Sis! Skip~). I just realize that I love those little details. Dulu kemana aja coba sampe ga ngeh kalo hal-hal kecil kaya gini tuh ternyata sangat berarti. Emang bener kata orang, ketika orangnya uda ga ada, kita baru ngerasain manfaatnya. Ga nyangka sweet bangett.. Gemasshh!!

Mudah-mudahan di depan bisa ketemu orang yang really really really care sama kamu (sampe 3x cuy penekanannya wkwkwk.. Jangan cari yang kaya aku. Aku yang dulu, bukanlah yang sekarang, dulu di… *Aduh malah nyanyi), bisa ngertiin your ‘Love Language’. Pokoknya paham apa-apa tentangmu, or at least, bersedia untuk belajar memahami segalanya tentangmu. Ga kaya aku nih, yang sampe di ulang tiga kali pun masih aja ga paham. Masih ga bisa bayangin how you manage your anger when handling me ehehe.. (pasti emosi banget ya?) Sampe akhirnya perlu berpuluh purnama buat nyadar kalo ternyata yang uda dilakuin dulu itu uda bener dan baik banget. Kalo mau banding-bandingin nih, yang kulakuin pun ga ada apa-apanya. TOP deh pokoknya. You are The Best! (Terus kalo Top, The Best gitu kenapa ga lanjut? Ehm nganu, sekarang uda ada versi ‘The Best’ yang berbeda he he he)

Terima kasih, sudah sabar, sudah mau mengerti, mau memahami kekompleksitasanku yang aku sendiri aja ga paham dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu, bersedia mengajarkan bagaimana menghadapi masalah dengan cara yang baik dalam suatu hubungan tanpa adanya penundaan dan pengabaian. Ga perlu nunggu 2 minggu buat nyelesein ‘aku maunya apa’. Ga perlu nunggu ketemuan, yang penting dibicarakan. Bukan diem-dieman, pura-pura lupa. Buset, bocah amad dah. Gitu lho, kok kamu ya bisa tahan. Kamu luar biasa, Mas!!

Communication adalah kunci pagar. Understanding kunci rumahnya. Using the ‘same language’ yang bikin rumahnya adem, ayem, tentrem.

Semangat Pagi! Tetap menyinari jagat raya dan alam semesta ya, Mas!! 🙂

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply