All Posts By

agnezrt

Tulisan

To The Man I Used to Care The Most

April 10, 2020

“Hey, how’s life after me?”

“Hancur, putus asa, hilang arah. Kalau itu jawaban yang kamu harapkan, maaf, engga. I have learned my mistakes. Tapi, ditakdirkan ketemu kamu, menghabiskan waktu yang ga sebentar, uda cukup membuka mata. Ternyata, ekspektasi ga akan bisa direalisasi tanpa aksi.”

“Bagus deh, kalo kamu baik-baik aja, karena aku engga.”

“Sabar ya. Pasti bisa.”

Setelah ribuan purnama menghilang, tiba-tiba muncul nanya kabar yang bener aja cuy. Pas ketemu, pake salah tingkah segala. Dari perjalanan yang sudah di tempuh sejauh ini, You’re my favorite person, I’ve ever met!

Ya gimana ga favorit coba, kenal di masa-masa labil menuju stabil (emosinya hehe…). Mulai ngerti salah dan benar di mata orang lain, ga lagi pake sudut pandang diri sendiri. Belajar arti empati dan simpati. Mulai ngerti apa yang namanya proses. Banyak banget deh yang dipelajari dan semuanya bermanfaat. Tapi, satu hal yang kelewat yang bikin hubungannya ga berhasil dulu. Tentang penerimaan.

Demanding/ Controlling
Dalam suatu hubungan, harusnya aku sadar bahwa masing-masing manusia diciptakan dengan keunikan tersendiri. Kadang kita dipertemukan dengan seseorang yang karakternya beda banget sama kita. Kalo karakternya mirip, jadiin temen! Sumpah bakalan awet temenannya.
Memiliki hubungan dengan karakter yang beda banget sama kita, kadang bikin kita tergoda buat mengubah sosok tersebut menjadi sosok yang kita inginkan. This is bad! Kalo uda mulai kaya gitu, take a step back and remember why you fell in love with this person in the first place. If I’m not mistaken, he was for the most part carefree and funny, but sometimes his jokes start to drive me nuts kadang sampe mikir banget karena ga paham. I have to remember that I love that he can make me laugh and that he has such a positive outlook on life.

Self-Centered
This kind of character bener-bener aku banget deh (dulu :p). Mudah-mudahan sekarang uda engga lagi atau paling ngga, uda berkurang. A person who tend to be consumed with their own thoughts and concerns. They are not good at actively listening to others or curious enough to ask conversational questions. They lack empathy and interest in you and tend to make you feel insecure and unimportant. I will not describe this in details hehe… ntar jadi semacam ngebuka luka lama *eaa.. Kok bisa aku segitunya dulu ckckck…

Expecting Perfection
We are all human. We all make mistakes. I was put you to some unrealistically high expectation. This is especially hard for those who hold unrealistically high expectations for themselves, but that’s another topic altogether.
We all have a “perfect” image in our minds of what a partnership is, and usually it is pretty far from reality. Adjust your expectations to be realistic and fair. If you do not take this hard look at yourself, and make this change, you are setting your relationship up for disappointment, and your partner for letting you down when they have done nothing wrong.

Avoiding Confrontation
Fighting is not the way most of us want to spend our time, so it can be tempting to just brush all of the problems under the rug. The flaw with that plan is that the problems collect and multiply. This will ultimately end up in an explosive argument, or a parting of ways with the other person baffled as to what went wrong. Communication is huge in any relationship and should not be avoided.

Ibu Cari yang Gati
Lho? Wait, I don’t even know what ‘Gati’ is. (That time). Mempelajari diri sendiri sama memahami diri sendiri aja belum bener, lalu untuk menjadi ‘Gati’ itu bagaimana ceritanya. Vocab baru denger, apalagi definisinya mana tau. Long story short, mudah-mudahan Ibu uda nemu yang gati ya 🙂

Ah, how I wish I could turn back the time. Bukan karena ingin mengulang, cuman pengen bilang di kesempatan yang dulu, betapa bersyukurnya di kasih periode waktu buat ketemu, kenal dan ga nyangka ultimate goal-nya tercapai, bukannya kenal kamu lebih baik malah aku yang akhirnya mengenali diri sendiri (*mendadak ada backsound Hindia – Mata Air). Terus tiap ketemuan dulu harusnya, aku selalu bilang ‘How I really appreciate kamu yang selalu ada, selalu sabar, mau ngasih tau mana yang bener, mana yang salah’. Bahkan urusan kecil tentang ngabisin makanan, walopun ga enak. Makan jangan disisain, makan makanan yang di suka aja, yang ga suka jangan di pesen. Aku nerima kamu apa adanya, gendut gapapa, makannya banyak, nyemil teros (*eh ini episode yang lain, Sis! Skip~). I just realize that I love those little details. Dulu kemana aja coba sampe ga ngeh kalo hal-hal kecil kaya gini tuh ternyata sangat berarti. Emang bener kata orang, ketika orangnya uda ga ada, kita baru ngerasain manfaatnya. Ga nyangka sweet bangett.. Gemasshh!!

Mudah-mudahan di depan bisa ketemu orang yang really really really care sama kamu (sampe 3x cuy penekanannya wkwkwk.. Jangan cari yang kaya aku. Aku yang dulu, bukanlah yang sekarang, dulu di… *Aduh malah nyanyi), bisa ngertiin your ‘Love Language’. Pokoknya paham apa-apa tentangmu, or at least, bersedia untuk belajar memahami segalanya tentangmu. Ga kaya aku nih, yang sampe di ulang tiga kali pun masih aja ga paham. Masih ga bisa bayangin how you manage your anger when handling me ehehe.. (pasti emosi banget ya?) Sampe akhirnya perlu berpuluh purnama buat nyadar kalo ternyata yang uda dilakuin dulu itu uda bener dan baik banget. Kalo mau banding-bandingin nih, yang kulakuin pun ga ada apa-apanya. TOP deh pokoknya. You are The Best! (Terus kalo Top, The Best gitu kenapa ga lanjut? Ehm nganu, sekarang uda ada versi ‘The Best’ yang berbeda he he he)

Terima kasih, sudah sabar, sudah mau mengerti, mau memahami kekompleksitasanku yang aku sendiri aja ga paham dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu, bersedia mengajarkan bagaimana menghadapi masalah dengan cara yang baik dalam suatu hubungan tanpa adanya penundaan dan pengabaian. Ga perlu nunggu 2 minggu buat nyelesein ‘aku maunya apa’. Ga perlu nunggu ketemuan, yang penting dibicarakan. Bukan diem-dieman, pura-pura lupa. Buset, bocah amad dah. Gitu lho, kok kamu ya bisa tahan. Kamu luar biasa, Mas!!

Communication adalah kunci pagar. Understanding kunci rumahnya. Using the ‘same language’ yang bikin rumahnya adem, ayem, tentrem.

Semangat Pagi! Tetap menyinari jagat raya dan alam semesta ya, Mas!! 🙂

Ringkasan Ilmu

Agar Terhindar dari Konflik Rumah Tangga

March 9, 2020

📖 Kajian Akhir Pekan

Untuk menghindari konflik dalam rumah tangga, ada beberapa poin.

1⃣ Jangan pernah menuntut pasangan seperti yang kita mau.

Itu sama saja berharap deburan ombak dari tepi ke tengah laut. Lebih baik kita rubah cara kita menyikapi pasangan. Sebab merubah dia seperti yang kita mau, ini kadang menyebabkan konflik.

2⃣ Untuk menuju lebih baik lagi, menghindari konflik ini, sebaiknya setiap kita berperan sesuai dengan peran yang diamanahkan.

Si suami, jadilah suami yang baik sebagai pemimpin. Istri jadilah pendamping yang baik sebagai pendamping. Dan itu kemudian kita ajarkan kepada anak-anak.

Sebab pengalaman-pengalaman yang ada, konflik itu terjadi karena Si-A menuntut Si-B seperti yang dia mau. Sementara dia sendiri tidak memerankan perannya secara baik. Akhirnya, ya; saling balas, saling menyakiti, menindaslah, ini tidaklah baik.

Kalau setiap orang menjalankan perannya, dia akan menjadi produsen kebaikan dan energi itu akan selalu saling memberi dan saling menguatkan satu sama lain.

Kalau saya pribadi punya prinsip begini, saya harus menjadi suami pemimpin masuk surga sekeluarga. Saya harus didik istri saya menjadi pendamping masuk surga sekeluarga. Saya harus didik anak saya menjadi jembatan masuk surga sekeluarga. Atau kalau perlu saya harus inspirasikan mertua agar mereka menjadi kakek dan nenek teladan masuk surga sekeluarga. Baiti jannati, Sehingga suasana itu mulai terbangun dan cara kita memandang pasangan kemudian juga mulai berubah.

📖 Inspirasi Hadits:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya.” (HR.Muslim).

KH. Bachtiar Nasir
_____________________
UBN Digital Academy
Admin : 0811 872 2017
Instagram : @ubndigitalacademy
Ikuti juga Channel Telegram kami utk dapatkan materi harian Tadabbur Qur’an Tematik : https://t.me/bachtiarnasir_official

“Tadabbur Hidayah Qur’an: Cerahkan Pikiran, Cahayakan Hati untuk Amal yang Terbaik”

FF & Cerpen

Back Home to (Leave) You

February 12, 2020

“Di, makasi uda bertahan sampe hari ini dan buat semua-muanya.”

Gw mencoba memulai obrolan setelah keheningan menyelimuti kami selama menikmati makanan Jepang favorit kami. Gw sengaja milih menu kesukaan kami, kesukaan dia sih sebenernya, tapi gara-gara dikenalin sama dia, gw jadi doyan juga. Karena gw rasa hari ini bakalan jadi pertemuan terakhir, gw cuman pengen nyenengin dia. Hampir setahun sejak pertemuan kami yang terakhir, ga banyak yang berubah di dia. Tetap sabar, meski gw nyasar keluar di Terminal Kedatangan Internasional. Lah kan gw penerbangan domestik yak. Entahlah gimana ceritanya.

“Ngomong apaan sih lo. Ini nih tahu mirip kaya pipi lo, bulet banget hahaaa…”

Sambil mindahin tahu itu ke piring gw.

“Ah sial ini nih yang bikin gw ngerasa dia beda dari awal. Dan gw ngerasain perasaan ini lagi.”

Gw cuman bisa ngomong dalam hati. Gw uda ambil keputusan dan ga boleh goyah. Kudu kuat!

“Di, kayanya gw terjebak rasa nyaman deh.”

Gw mencoba memulai percakapan ke arah yang lebih serius.

“Rasa nyaman ame siape? Siapa lagi nih yang lagi deketin? Temen kantor lo lagi? Temen sekolah? Apa yang langsung ngajak nikah itu? Oh gw tau, pasti sama cowok yang nyokap lo salah manggil nama gw itu kan. Astaga, masih aja. Tentuin sikap, Na!”

Adi nih kebiasaan suka ngomel panjang, padahal gw aja belom mulai jelasin detailnya. Tapi gw selalu ketawa sama omelannya. Sampe dia bilang, ini gw lagi marah dan lo malah ketawa. Gw juga ga ngerti kenapa, abis kalo dia ngomel banyak benernya dan gw bingung musti ngerespon gimana, jadi cuman bisa ketawa.

“Lo masih inget ga obrolan kita siang pas makan di resto yang porsinya gede banget itu. Tentang tolak ukur pasangan kita masing-masing?”

Gw mulai lagi pake nada serius.

Continue Reading
Healthy Lifestyle

Kenapa Harus Kurus & How To

June 17, 2019

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.


I wish berat badan juga bisa menggunakan quote tersebut, “Menjadi berisi itu pasti, menjadi ideal itu pilihan.” Apa daya, fakta pahitnya adalah menjadi kurus belum pasti, menjadi berisi adalah sebuah kepastian. Quote ini tidak berlaku untuk semua orang, karena setiap orang dianugerahi bentuk tubuh dan metabolisme yang berbeda-beda. Khusus untuk saya, makan nasi sehari tiga kali dan tanpa olahraga sama sekali sudah dapat dipastikan akan meningkatkan berat badan sekitar 2-3 kilogram dalam seminggu. Jika di tengok mundur sekitar 2 atau 3 tahun kebelakang, saya tidak banyak melakukan aktivitas fisik seperti olahraga rutin, hanya aktivitas bekerja di belakang layar, sedikit pekerjaan rumah tangga, dan olahraga jempol untuk sekedar scrolling timeline di media sosial. This kind of lifestyle biasa di sebut dengan istilah Sedentary Lifestyle atau Pola Hidup Sedentari. Sebuah pola hidup yang tidak banyak melakukan aktifitas fisik atau tidak banyak melakukan gerakan. Istilah ini makin populer ketika dikaitkan dengan masalah kesehatan. Hal ini disebabkan pola hidup sedentari dianggap sebagai faktor resiko terhadap berbagai masalah kesehatan populer seperti penyakit jantung dan stroke. Pola hidup sedentari juga merupakan faktor resiko terhadap berbagai masalah kelainan metabolisme, seperti: kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, resistensi insulin, obesitas, dan lain sebagainya.

Nah bicara obesitas, terakhir kali saya menghitung BMI (Body Mass Index) bisa di coba melalui link ini, saya berada di kisaran Overweight. Dampak dari overweight yang mulai saya rasakan, seperti mudah lelah, mudah sakit semacam flu, batuk, pilek dan kawan-kawannya. Tidak sanggup berjalan jauh ataupun beraktivitas banyak. Namun hal ini berbanding terbalik dengan hobi makan saya yang semakin tidak terkontrol dan segala macam makanan yang saya lahap tanpa berpikir dua kali apakah makanan tersebut bermanfaat dan dibutuhkan oleh tubuh saya.

Hingga tibalah suatu titik, dimana orang tua saya mendadak bertanya, “Mbak kok makin chubby.” Teman saya juga mengiyakan dengan memberikan kode sebaiknya saya tidak ‘melebar’ lagi dan puncaknya ketika saya tidak dapat menikmati hobi jalan-jalan, trekking, susur sungai, naik turun bukit karena napas lebih cepat habis. Waktu banyak terbuang karena lebih banyak istirahat di banding menuju destinasi wisata dan kemudian menikmatinya. Dari sekian banyak alasan yang telah terkumpul, semakin memantapkan hati dan niat untuk mengurangi berat badan saya atau bahasa kerennya ‘Diet’. Padahal pengertian menurut para ahli, bukanlah seperti itu. Menurut Mangoenprasodjo, 2005, diet yang baik adalah diet yang menekankan pada perubahan dalam jenis makanan, jumlah dan seberapa sering seseorang makan dan ditambah dengan program. Menurut Budiyanto, 2001, agar tujuan diet dapat tercapai dalam diet jumlah asupan dan frekuensi makan juga harus dikendalikan. Sedangkan menurut Luxboy, diet normal atau diet yang seimbang terdiri dari semua elemen makanan yang diperlukan agar tubuh tetap sehat.

Sementara menurut Hartono, 2000, pengertian diet adalah pengaturan jenis dan jumlah makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan serta status nutrisi dan membantu menyembuhkan penyakit. Setiap diet termasuk makanan, tetapi tidak semua makanan masuk dalam kategori diet. Dalam diet jenis dan banyaknya makanan ditentukan dan dikendalikan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam upaya mengatur asupan nutrisi diet dibagi menjadi tiga, yaitu: menurunkan berat badan, meningkatkan berat badan dan pantangan. Pantangan terhadap makanan tertentu misalnya bagi penderita diabetes (rendah karbohidrat dan gula).

Continue Reading
FF & Cerpen

Surat dari Sang Penggemar

March 12, 2018

Sabtu, 8 Agustus 2020.

       Sore itu, aku sengaja meluangkan waktu untuk membagikan undangan pernikahanku yang akan dilaksanakan dalam 2 minggu ke depan. Terbang ke Jakarta di akhir pekan dan membagikan satu per satu undangan untuk sahabat, kerabat dan teman dekat yang berdomisili di Jakarta. Dari sekitar 20 undangan yang telah disiapkan, tersisa satu undangan yang sengaja diberikan terakhir untuk Dito. Ya, Dito. Seorang laki-laki yang bukan termasuk sahabat, kerabat ataupun teman dekat. Ia kuanggap sebagai kakak. Kakak laki-laki yang didambakan, yang diidamkan, sosok yang melindungi dengan sepenuh hati. Mengingat sebagai anak pertama, aku harus menjadi teladan bagi adik, memberikan contoh terbaik bagaimana menjalani hidup, menanggulangi badai dan terpaan ombak di setiap perjalanan. Mas Dito, begitu aku memanggilnya. Sosoknya begitu karismatik, tatapan matanya yang teduh serta senyumnya yang menenangkan cukup membuatku merasa nyaman ketika berada di sekitarnya. Sepanjang hari bersamanya hanya akan terasa seperti 5 hingga 10 menit saja. Pertemuan dengannya selama apapun itu pasti akan terasa singkat. Entah karena kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku atau karena bunga-bunga mendadak bermekaran ketika aku bersamanya. Perjalanan menembus kemacetan Ibukota untuk menuju bandara terasa singkat, karena tatapan matanya yang seolah tak bisa lepas padaku. Senyumnya yang terkembang sempurna serta cara tertawanya yang menyenangkan siapapun pendengarnya, benar-benar tidak mudah dilupakan.

       Mas Dito benar-benar sosok yang out of reach lah, ketika ku coba mengingat masa-masa awal perkenalan kami. Seorang teman kami tiba-tiba berkata padaku, “Yang itu namanya Dito. Dia lagi proses sama cewek Sunda, udahlah kamu bukan tipenya.”

       Menanggapi kalimat tersebut, aku menghilangkan segala kemungkinan bahkan hanya untuk tahu siapa nama sebenarnya. Hingga akhirnya kami dipertemukan pada suatu komunitas Pecinta Alam, dimana bukannya naksir Dito, aku malah kagum dengan pesona Ketua kami. Tapi takdir tidak mempertemukanku dengan Pak Ketua, meski kami telah berusaha saat itu. Kembali dipertemukan dengan Mas Dito pada suatu sore terkait project IT yang akan kami kerjakan bersama untuk keperluan komunitas tersebut, tetap saja tidak membuatku tertarik padanya. Hingga pada akhirnya, aku meninggalkan Jakarta beberapa tahun silam. Mas Dito orang pertama yang mencariku ketika Ia baru sadar bahwa beberapa minggu ke belakang, aku sudah tidak ada lagi disekitarnya.

Jakarta, Oktober 2019.

“Oh gitu, tapi kenapa Mas dulu baru datang saat aku sudah pergi?”

       Ya, Mas Dito adalah salah satu dari beberapa orang yang mencariku setelah kepindahanku dari Jakarta. Entah karena aku punya hutang atau cicilan yang belum terbayar hehe..kriuk (baca: garing). Ia yang datang pertama untuk mencariku melalui teman baik kami.

“Aku ga tau, kalau ternyata saat itu kamu sudah meninggalkan Jakarta. Aku ga bisa ninggalin Jakarta, Ibuku disini, pekerjaanku disini, hobi dan segala aktivitas yang aku suka ada disini. Aku ingin melengkapi hidupku dengan keberadaanmu saat itu. Ku kira kamu masih di Jakarta, tapi ternyata sudah jauh disana.”

“Ku rasa begitupun denganku, Mas. Aku sudah nyaman dengan tempatku berada saat ini. Aku belum terpikir untuk kembali ke Jakarta dengan segala kerumitan dan kesibukan yang pernah aku alami sebelumnya.”

“Kamu suka dengan pekerjaanmu? Suka dengan tempat tinggalmu sekarang? Kenapa?”

“Iya, aku suka. Aku suka dengan pekerjaanku saat ini, sudah nyaman untuk menjalaninya. Tempat tinggalku sekarang lebih mudah untuk menjangkau kedua orang tuaku. Aku bisa pulang sewaktu-waktu jika dibutuhkan.”

“Kita sepertinya masih di jalan masing-masing ya. Tidak ada yang berubah dari harapanku di saat awal kita bertemu. Kamu masih dengan kesibukanmu dan aku juga. Ku rasa kita masih belum menemukan titik temu. Kita jalani aja hidup kita masing-masing.”

       Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta sore itu mendadak menjadi sangat berat, kemacetan Jakarta terasa semakin menjadi-jadi ketika di tengah kesedihan itu diputarlah lagu Two Ghosts yang dinyanyikan oleh Harry Styles. Liriknya bercerita bahwa bagaimana dua orang yang dulu begitu dekat, kemudian saat bertemu kembali ternyata terasa begitu jauh. Time flies and people change. Perjalanan pulang kali itu benar-benar membuat dada terasa sesak dan bernafas begitu berat seolah terkena asma, tanpa ada riwayat asma.

——

       Waktu tetap berlalu dan aku berusaha melupakannya, kurasa Ia juga melupakanku. Hingga tiba suatu masa dimana kedua orang tuaku berencanana melakukan perjalanan ibadah melalui biro perjalanan di Jakarta. Dari berbagai opsi teman yang bisa dipercaya dan bersedia meluangkan waktu untuk membantu segala persiapan administrasi, hanya Mas Dito yang segera mengiyakan tanpa penolakan sedikit pun. Segala persiapan keberangkatan hingga kedatangan sama sekali tidak ada kendala. Hingga pada saat kepulangan Ayah dan Ibu tiba, Mas Dito datang bersama Ibunya ke bandara. Dan Ia menyampaikan tujuan utama kedatangannya bersama Ibunya. Namun kondisi saat itu sudah berbeda, aku tidak dalam kondisi bisa memilih. Keputusan telah di buat sebelumnya. Dan lagi-lagi kepulangan setelah pertemuan dengan Mas Dito, berakhir dengan kondisi sesak napas, seakan ketersediaan oksigen di bumi ini tiba-tiba menipis.

———

       Mungkin bukan waktu yang harus disalahkan, kenapa aku tidak bertemu dia sebelum dia. Kenapa bukan Mas Dito yang datang pertama, kenapa harus dia. Mungkin aku yang tidak sabar menunggu, ketika mas Dito merasa dirinya belum siap. Namun ketika Mas Dito siap, kenapa keputusan itu sudah di buat. Aku jauh lebih mengenal Mas Dito jika dibandingkan dengan Ia. Aku tahu bagaimana lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, hobi dan kesukaannya serta bagaimana wawasan ilmu agamanya. Yang jika aku tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan mengenai persoalan sehari-hari terkait wawasan agama, Mas Dito adalah ‘Google’ andalanku. Namun, keputusan telah di buat, dan laki-laki yang akan menjadi imamku, bukanlah Mas Dito. Maka, sebaiknya aku segera berhenti untuk membandingkan.

       Saat ini, aku merasa perasaanku padanya (Ia yang telah ku pilih) tidak akan pernah seperti yang kurasakan padamu, Mas. Hal yang kualami ini membuatku semakin yakin atas kalam-Nya, “..boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216).

       Mungkin Mas Dito merupakan sosok yang aku inginkan, yang aku impikan, yang aku harapkan untuk menemani hari-hari ke depan. Sosok untuk berbagi suka dan duka, sosok yang membuatku menurunkan idealisme yang terlalu tinggi hingga lupa bahwa kita ternyata hanya manusia biasa yang penuh kekurangan. Sosok yang tidak banyak menuntut perubahan, yang menerima segala kekurangan dan bersedia membersamai dalam kondisi apapun. Maaf jika beberapa tahun silam kedatanganmu dengan niat yang baik itu, tidak mendapat respon yang tepat hanya karena logika matematika yang ternyata meremehkan kuasa Sang Pencipta. Terima kasih karena tetap berbuat baik tanpa henti padaku, meski caraku memperlakukanmu dulu tidak baik.

       Maafkan jika aku telah memilih orang yang aku tau dia mencintaiku, yang mengutarakan niat baiknya dan mendatangi dengan cara-cara baik, yang menerimaku sepaket dengan kelebihan dan kekuranganku, serta kekonyolanku yang nanti kalau dia tanya ibukota-ibukota di Kalimantan, aku sudah bisa jawab. Kota-kota di Sumatera juga, biar ga ketuker gara-gara Selai Kaya. Ia yang memilih untuk menghentikan perjalanannya sesaat untuk mengajakku bergabung pada itinerary yang telah Ia susun. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan kembali. Mas Dito jika surat ini telah sampai kepadamu, ku harap masing-masing kita tidak menyesali keputusan-keputusan yang telah kita ambil di masa lalu. Semoga kebaikan-kebaikan yang telah kamu berikan selama mengenalku, akan dilipatgandakan dan kembali padamu.

Dari seorang pengagum yang beberapa hari lagi akan menghapus segala kenangan dan ingatan tentangmu. Mohon doa restu untuk keputusan terbaik yang telah aku ambil tanpa ada kamu di dalamnya. Terima kasih untuk segalanya, Mas.

 

Jakarta,
Minggu, 9 Agustus 2020 @ 9:00 PM
Bandara Soekarno-Hatta Terminal Keberangkatan 2F.
– Tempat dimana harapan itu tumbuh dan mendadak lenyap tak berbekas.

Ringkasan Ilmu

Sebuah Catatan

September 22, 2017

Sewaktu gadis dulu ketika emosi-mu tidak stabil .. saat kegalauan melanda hati.. saat ada masalah dengan teman satu kosan kamu masih bisa bertindak egois dan mengedepankan perasaanmu.

Kamu bisa pergi dari kosan (kabur ke tempat saudara atau tempat sahabat) untuk mententramkan jiwamu.. Kamu bisa curhat ke teman lain tentang perasaanmu agar menjadi tenang..
Kamu bahkan bisa melakukan apapun yang kamu bisa untuk menenangkan hatimu (tentu saja tanpa mendzolimi seorangpun).

KARENA KAMU MASIH SINGLE

Alias yang kamu pikirkan hanyalah badan dan jiwamu.

Setelah berganti status menjadi istri.. banyak yang akan berubah.!

Ketika kamu ada masalah dengan teman hidupmu..
Kamu harus bisa menahan hawa nafsumu..
Ketika kamu ingin keluar sebentar dari rumah.. ingin menonaktifkan segala macam komunikasi denganya.. ketika egomu berkata biarkan dia khawatir terhadapmu.. lakukan apapun..
Kamu tidak akan bisa Seperti Itu..!
Mungkin kamu bisa (jika kamu benar benar orang egois).. tapi kamu tidak boleh..!

Kamu tidak boleh menceritakan masalahmu dengan mudahnya kepada siapapun..!
Siapapun..!

Karena masalah ini bukan seperti masalah dengan teman kos dulu..

Kamu tidak boleh membuatnya khawatir dengan putus komunikasi dan kabur begitu saja tanpa kabar.. karena status kamu sekarang sudah double.

Yang harus kamu urus dan perhatikan bukan hanya perasaan dan jiwamu saja.. tetapi perasaan pasanganmu…

Kamu tidak hanya memikirkan tentang dirimu.. kamu harus pikirkan tentang dia juga.

Saat itulah terasa berat sebagai istri.

Itulah salah satu ujianya sebagai istri.. disitu saatnya kita sadar bahwa surga itu memang tidak semudah itu didapat..
Gelar ‘istri shalehah’ pun bukan hal yang mudah diraih.

Dulu.. bahkan saat kita tidak perduli kepada diri kita.. it’s okay..
Tetapi sekarang jika kamu tidak peduli.. maka akan ada yang sedih karena mengkhawatirkanmu dan kamu tidak boleh membuatnya khawatir.. apalagi ketika kamu telah memiliki anak-anak…

Saat awal menikah kita merasa senang karena telah menyempurnakan separuh agama dan merasa setengahnya lagi kita akan dapatkan dengan mudah..
Ketika mendengar hadits tentang istri shalehah yang bisa memilih masuk syurga lewat pintu mana saja kita merasa senang karena kita pikir dengan menikah.. syurga telah di depan mata.

[ Hadits nya sebagai berikut..Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا صلَّتِ المرأةُ خَمْسَها وصامتْ شهرَها وحصَّنتْ فرْجَها وأطاعت بعلَها دخَلتْ مِن أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شاءتْ

“Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu.. melaksanakan puasa pada bulannya.. menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.”
(HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya nomor 4163) ]

Tetapi prakteknya sangat tidak mudah.

Memerangi hawa nafsu dan ego sendiri itu sulit.. (terlebih di umur kita yang masih muda dan usia pernikahan yang masih dini).

Ketika ingin kerja dan suami tidak mengizinkan.. kita harus memendam keinginan itu..
Bahkan ketika berkaitan dengan kedua orang tua yang selama ini menjadi orang yang paling penting di hidup kita saat masih single.. kita harus merelakanya untuk mentaati lelaki yang bernamakan suami..

Jika urusan orang tua saja kita harus relakan.. apalagi hanya urusan pribadi … ?

Ketika kita ingin bertemu sahabat lama dan suami tidak mengizinkan.. saat itu status istri shalehah dipertaruhkan..
Akankah kamu lulus atau gagal dan membangkang terhadap suami.

Apapun alasan suami kita harus terima.. ya! meskipun kita dapat berdiskusi denganya.. memberikan pendapat dengan cara halus.. tetap saja keputusan akhir suami yang harus kita taati dan harus kita terima.

Disaat kita suka warna kuning dan ternyata suami tidak suka melihat kita memakai baju kuning dan menyuruh kita menggantinya.. maka kita harus melawan perasaan kita untuk mengedepankan kesenangan suami.

Artinya..
Kita harus menukar apapun yang kita miliki sebelumnya untuk membuat suami ridha dan senang selama itu tidak melanggar aturan Allah..
Karena saat menikah kita sudah berkomitmen untuk taat kepada dia karena Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Camkan selalu akan posisimu terhadapnya.. sesungguhnya suamimu adalah syurga dan nerakamu”
[Dishahihkan oleh Syeikh albaniy dalam Silsilah Shahihah: 6/220]

Ketika kita ada masalah dengan suami dan tangan ini terasa gatal untuk menulis status di media sosial.. hanya demi memuaskan keinginan kita dan merasa terhibur dengan komentar teman teman. ya! sebatas menghibur bukan menyelesaikan masalah kita..
Karena solusi itu kembali kepada kita.. apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikanya..?

Saat itu tegakah kamu menjadikan suamimu.. orang nomor satu di hidupmu menjadi bahan lelucon orang orang..?

Relakah jika syurgamu (suami) menjadi perbincangan orang… ?

Saat suami menjadi orang nomor satu dihidup kita dan kenyataannya kita bukanlah orang nomor satu di hidup dia.. karena ibunya..ayahnya.. saudarinya telah menempati hatinya.. saat itu kita merasa tidak terima karena kita menuntut agar menjadi orang terpenting di hatinya..
Saat itu kita harus melawan ego kita (lagi), karena Allah telah mewajibkan kita taat suami dan Ia mewajibkan suami taat kepada orang tuanya.

Sudah tidak asing lagi bagi kita sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
لو كنتُ آمرًا أحدًا أن يسجُدَ لأحدٍ لأمرتُ المرأةَ أن تسجُدَ لزوجَها لما جعل اللهُ له علَيها من الحقِّ

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain.. maka aku akan perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya.. disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi suami atas mereka (para istri).”
(HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Bani)

Sudah sangat jelas bahwa kedudukan suami itu sangat istimewa.

Kadang tanpa terasa kita termakan doktrin..bahwa wanita ketika menikah tidak merubah apapun dalam hidupnya.. hanya bertambah teman hidup.. tetapi dia bebas untuk melakukan apapun sesukanya dan suami tidak punya hak untuk melarang.. menahan dll. berdalihkan hak asasi dan kebebasan..

Seorang istri yang taat suami seakan terkekang dalam penjara yang dinamakan ‘RUMAH’..ibu rumah tangga seakan wanita yang sengsara yang mimpinya terabaikan dan keinginanya menjadi tak penting lagi.

Itu semua tidak benar…!! suami disamping menjadi Raja.. ia adalah teman kita.. tempat kita berbagi rasa.. curhat diskusi tentang mimpi.. hobi dan masih banyak lagi. .

Memang benar lelaki tidak akan setara dengan wanita dalam hal ini karena ia memang tercipta sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….”
(Al-Baqarah: 228)

Jadi..mungkinkah syurga bisa kita raih tanpa pengorbanan ?

Mungkinkah gelar istri sholehah bisa di dapatkan tanpa adanya perjuangan ?

Dengan memakai kerudung dan banyak ibadah tidak cukup untuk meraih gelar tersebut.. dengan sering belajar agama tidak menjamin telah menjadi istri yang baik.. juga shalehah.

Itu semua (menutup aurat..beribadah belajar agama) memang kewajiban seorang muslimah dan menjadi sarana untuk mendapatkan gelar mulia itu.

Tetapi ketika kita telah meruntuhkan benteng egoisme dalam jiwa wanita Kita dan bersedia untuk menjaga dan menghormati pasangan..
Bersedia mentaatinya dan patuh akan semua yang dia perintahkan dan berusaha menjauhi apa yang dia tidak suka,

Maka semoga usaha yang tidak mudah itu pada akhirnya menghantarkan semua kepada syurga Allah,

hanya Ia yang dapat menentukan apakah telah lulus menjadi ‘istri shalehah’ ?

Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha dan berusaha sampai tidak ada kesempatan lagi untuk berusaha.

Selamat buat para istri yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seorang muslim.. melayaninya dengan penuh kesabaran.. menerima kekuranganya dengan tanpa mengeluh. menemaninya dalam kehidupan yang setiap harinya fitnah (godaan) semakin menyebar.

Selamat buat para istri yang telah bersusah payah mengubur keegoisan dan menjunjung tinggi suaminya..membelanya.. menutupi aibnya dan juga menjaganya dengan do’a.

Semoga yang kalian lakukan akan berbuah kebaikan yang banyak pada rumah tangga kalian.. Allah akan ganti setiap usaha kalian dengan kesehatan untuk setiap anggota keluarga.. keberkahan.. kelancaran urusan dan kedekatan kalian dan pasangan kepada Allah ta’ala..
Tak lupa pahala yang tanpa batas dan surga yang sangat luas.

Aamin Yaa Rabbal ‘alamin.

Catatan :

– Sebelum menikah posisi orang tua adalah diatas segalanya (setelah Allah)..
Tetapi kita tidak hidup bersama orang tua seperti kita hidup bersama suami.. maka dari itu pada tulisan diatas bercerita seakan ketika menjadi anak dapat berlaku egois dan tidak memperdulikan kekhawatiran orangtua. (semoga tidak disalahpahami) 😊

– Tulisan diatas hanya berbicara tentang istri dan fokus kepada kewajibanya. tanpa menafikan kewajiban dan tugas suami terhadap istri..

Tanggung jawab suami juga besar.. oleh karena itu banyak yang harus seorang suami perhatikan dalam memimpin bahtera rumah tangganya.

– Tulisan diatas hanya menggambarkan sisi beratnya menjadi istri.. agar para wanita dapat mempersiapkan segala sisi jika ingin melangkah kepada pernikahan,. tanpa menafikan sisi positif dan kelebihan juga kebahagiaan yang akan didapat setelah menikah.

(Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizhahullah)

Puisi

Tuan

August 17, 2017

Hai, Tuan

Apa kabar?
Bagaimana langit malammu disana?
Apa benar langit malam yang kau lihat masih sama denganku?

Belakangan ini, rindu sudah sangat keterlaluan
Ia datang dan pergi sesuka hati
Kalau sekedar berpapasan, aku tidak akan memperdulikan
Ia tidak sekedar datang Tuan
Ia mengoyak tubuhku serta menggoreskan luka

Ia memang datang sesekali
Namun, segera pergi
Tanpa sempat kutanya, apa yang kau cari
Ia hanya meninggalkan sesuatu
Sembari berbisik, ia katakan
Harapan

*
Duhai Allah Sang Pemilik Hati
Yang Maha Membolak-balikkan Hati hamba-Nya
Kalau rindu ini terlalu menyesakkan dada
Sehingga bernafas pun susah, ambil rasa ini, ya Allah
Netralkan kembali
Hambamu ini merasa berat
*

Wahai Tuan
Sungguh aku belum berani bertanggung jawab atas perasaan ini
Aku ingin tahu apa kau pun merasakan hal yang sama
Atau ternyata hanya aku saja
Yang tersiksa tersebab rindu tak bertuan ini

Tuan
Bersediakah engkau bertukar peran?

FF & Cerpen

Perjalanan Rasa

July 18, 2017

Ini adalah kisah gue, Tyo, seorang cowok ganteng yang sebenernya sudah menjatuhkan pilihan teman hidup pada seorang wanita bernama Nesa tapi sampai saat ini belum bisa merubah statusnya di KTP.

Enak aja! Ini cerita tentang aku, Nesa, seorang perempuan yang masih sibuk mengurus dirinya sendiri, sibuk membandingkan si A, si B, si C hingga saat ini masih belum menentukan pilihan. Cewek paling ribet, paling kompleks dalam menentukan pilihan. Perlu analisa panjang, pertimbangan dari segala aspek, puasa senin kamis, sampai mandi kembang 7 rupa demi menentukan sebuah jawaban. Yang terakhir lebay ding hahaa..

“Sa, biar gue nyelesein kisah gue duluan. Ntar lu pake judul yang lain deh.”

“GA! Aku juga mau cerita. Lagian cowok ngalah dikit napa ama cewek.”

“Oke, biar adil kita gantian. Gimana?”

“Okayy… Dimulai dari aku dulu yaaa…”

“Tapi Sa, wait…”

—–
#Nesa

Halo semua, aku Nesa. Di kisah ini aku ga akan ceritain siapa Tyo, biar dia cerita tentang dirinya sendiri nanti. Palingan cuman bahas gimana si Tyo itu (lah, apa bedanya cuy..), apa hubungan dia sama aku, bagaimana kami bisa saling kenal dan seperti apa hubungan kami saat ini. Kalau diperkenalan awal dia kepedean ngaku-ngaku ganteng, honestly, doi emang ganteng. Tapi kan cowok ganteng itu makin keren kalau dia ga merasa ganteng dan stay cool yak. Ini karena dia pedenya teramat sangat jadi agak gimanaa gitu…

Tyo yang kukenal selama 3 tahun terakhir, makin kesini dia makin banyak berubah. Mungkin karena dulu ga kenal-kenal amat kali ya. Terakhir ketemu dia sekitar 2-3 bulan yang lalu. Sosoknya berubah dari yang awalnya kukenal sangat kaku, ternyata ramah juga. Yang paling ga nyangka, dia ternyata bisa bercanda! Ya walaupun level candaannya masih beginner, tapi ya “nice try lah ya“. Pertemuan kami kemarin seperti bentuk akumulasi rindu setelah setahun tak bertemu. Kukira perasaanku kepadanya sudah benar-benar hilang, karena ia tiba-tiba menghilang setelah kami sebegitu dekatnya. Dulu.

H-1 sebelum bertemu dengannya, mendadak banyak kupu-kupu yang menari-nari di perut, entah di bagian lambung atau ginjal. Serta senyum yang mengembang benar-benar tak lepas dariku. Padahal jadi atau tidaknya pertemuan kami pun masih belum pasti, karena agenda Tyo sangatlah padat saat berada di kota tempatku berada. Tapi alih-alih melupakan yang tidak pasti, rasa deg-degan menyambut kedatangannya benar-benar tak bisa terlepas meski sedetik. Ah aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya di akhir pekan ini.

“Sa, sabtu malam, gue kayanya bisa nih. Urusan udah pada kelar.”

“Oke, di Mall ini aja ya, sekalian mau liat-liat travel fair sama temen yang mau liat paket liburan.”

“Oke ketemu disana ya.”

—–

Sore itu sebelum perjumpaan kami, aku bertemu dengan teman-teman kampus yang juga hunting tiket liburan dengan diskon gila-gilaan di sebuah Mall di kota Surabaya. Sebelum ikut berburu, aku ditemani beberapa teman untuk mengisi amunisi (baca: makan) di sebuah resto. Menu nasi goreng yang tadi ku pesan ternyata cukup untuk 4 orang, beruntung di depanku duduk tampan (klo temannya cewek, jadinya duduk cantik :p) seorang teman bernama Andi yang bersedia menemani menghabiskan porsi tersebut, meski pada akhirnya kami menyerah dan nasi goreng tersebut kami bungkus. Detik-detik menjelang pertemuanku dengan Tyo semakin dekat dan aku semakin gelisah karena tidak tau apa yang nanti harus diobrolkan, apakah outfit yang ku pakai hari ini cocok untuk bertemu dengannya, dandanan hari ini norak atau ga pas ketemu dia. Duh!

Ketika kepanikan melanda, mendadak aku terbayang beberapa tahun lalu bagaimana awal perjumpaan kami di Ibukota. Sungguh sosok yang aku tunggu kedatangannya malam ini, jika ditarik mundur ke beberapa tahun yang lalu, benar-benar sosok yang tidak ingin ku temui lagi di masa depan.

Puisi

Mengagumi Dari Jauh

June 6, 2016

Jika kamu diselimuti ragu
Masih merasa kurang ilmu
Dan perlu tambahan waktu
Tak apa, maka persiapkanlah sebaik-baik persiapan

Jangan berperang tanpa strategi
Ataupun berlayar tanpa arah
Karena seorang pemimpin tidak dilahirkan tanpa perjuangan
Dan nahkoda handal tidak diciptakan dari laut yang tenang

Banyak hal yg bisa dilakukan selagi masih sendiri
Meski sendiri bukan alasan untuk tak beraktualisasi
Memang pelajaran hidup tak melulu tentang teori
Tapi bukannya amal yg benar dilakukan jika disertai ilmu

Aku memang tak bisa menyentuhmu
Bahkan jika rindu ini memuncak, hanya doa yg bisa memelukmu
Maka, sebelum waktunya tiba izinkan aku hanya mengagumi dari jauh