All Posts By

agnezrt

FF & Cerpen

Surat dari Sang Penggemar

March 12, 2018

Sabtu, 8 Agustus 2020.

       Sore itu, aku sengaja meluangkan waktu untuk membagikan undangan pernikahanku yang akan dilaksanakan dalam 2 minggu ke depan. Terbang ke Jakarta di akhir pekan dan membagikan satu per satu undangan untuk sahabat, kerabat dan teman dekat yang berdomisili di Jakarta. Dari sekitar 20 undangan yang telah disiapkan, tersisa satu undangan yang sengaja diberikan terakhir untuk Dito. Ya, Dito. Seorang laki-laki yang bukan termasuk sahabat, kerabat ataupun teman dekat. Ia kuanggap sebagai kakak. Kakak laki-laki yang didambakan, yang diidamkan, sosok yang melindungi dengan sepenuh hati. Mengingat sebagai anak pertama, aku harus menjadi teladan bagi adik, memberikan contoh terbaik bagaimana menjalani hidup, menanggulangi badai dan terpaan ombak di setiap perjalanan. Mas Dito, begitu aku memanggilnya. Sosoknya begitu karismatik, tatapan matanya yang teduh serta senyumnya yang menenangkan cukup membuatku merasa nyaman ketika berada di sekitarnya. Sepanjang hari bersamanya hanya akan terasa seperti 5 hingga 10 menit saja. Pertemuan dengannya selama apapun itu pasti akan terasa singkat. Entah karena kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku atau karena bunga-bunga mendadak bermekaran ketika aku bersamanya. Perjalanan menembus kemacetan Ibukota untuk menuju bandara terasa singkat, karena tatapan matanya yang seolah tak bisa lepas padaku. Senyumnya yang terkembang sempurna serta cara tertawanya yang menyenangkan siapapun pendengarnya, benar-benar tidak mudah dilupakan.

       Mas Dito benar-benar sosok yang out of reach lah, ketika ku coba mengingat masa-masa awal perkenalan kami. Seorang teman kami tiba-tiba berkata padaku, “Yang itu namanya Dito. Dia lagi proses sama cewek Sunda, udahlah kamu bukan tipenya.”

       Menanggapi kalimat tersebut, aku menghilangkan segala kemungkinan bahkan hanya untuk tahu siapa nama sebenarnya. Hingga akhirnya kami dipertemukan pada suatu komunitas Pecinta Alam, dimana bukannya naksir Dito, aku malah kagum dengan pesona Ketua kami. Tapi takdir tidak mempertemukanku dengan Pak Ketua, meski kami telah berusaha saat itu. Kembali dipertemukan dengan Mas Dito pada suatu sore terkait project IT yang akan kami kerjakan bersama untuk keperluan komunitas tersebut, tetap saja tidak membuatku tertarik padanya. Hingga pada akhirnya, aku meninggalkan Jakarta beberapa tahun silam. Mas Dito orang pertama yang mencariku ketika Ia baru sadar bahwa beberapa minggu ke belakang, aku sudah tidak ada lagi disekitarnya.

Jakarta, Oktober 2019.

“Oh gitu, tapi kenapa Mas dulu baru datang saat aku sudah pergi?”

       Ya, Mas Dito adalah salah satu dari beberapa orang yang mencariku setelah kepindahanku dari Jakarta. Entah karena aku punya hutang atau cicilan yang belum terbayar hehe..kriuk (baca: garing). Ia yang datang pertama untuk mencariku melalui teman baik kami.

“Aku ga tau, kalau ternyata saat itu kamu sudah meninggalkan Jakarta. Aku ga bisa ninggalin Jakarta, Ibuku disini, pekerjaanku disini, hobi dan segala aktivitas yang aku suka ada disini. Aku ingin melengkapi hidupku dengan keberadaanmu saat itu. Ku kira kamu masih di Jakarta, tapi ternyata sudah jauh disana.”

“Ku rasa begitupun denganku, Mas. Aku sudah nyaman dengan tempatku berada saat ini. Aku belum terpikir untuk kembali ke Jakarta dengan segala kerumitan dan kesibukan yang pernah aku alami sebelumnya.”

“Kamu suka dengan pekerjaanmu? Suka dengan tempat tinggalmu sekarang? Kenapa?”

“Iya, aku suka. Aku suka dengan pekerjaanku saat ini, sudah nyaman untuk menjalaninya. Tempat tinggalku sekarang lebih mudah untuk menjangkau kedua orang tuaku. Aku bisa pulang sewaktu-waktu jika dibutuhkan.”

“Kita sepertinya masih di jalan masing-masing ya. Tidak ada yang berubah dari harapanku di saat awal kita bertemu. Kamu masih dengan kesibukanmu dan aku juga. Ku rasa kita masih belum menemukan titik temu. Kita jalani aja hidup kita masing-masing.”

       Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta sore itu mendadak menjadi sangat berat, kemacetan Jakarta terasa semakin menjadi-jadi ketika di tengah kesedihan itu diputarlah lagu Two Ghosts yang dinyanyikan oleh Harry Styles. Liriknya bercerita bahwa bagaimana dua orang yang dulu begitu dekat, kemudian saat bertemu kembali ternyata terasa begitu jauh. Time flies and people change. Perjalanan pulang kali itu benar-benar membuat dada terasa sesak dan bernafas begitu berat seolah terkena asma, tanpa ada riwayat asma.

——

       Waktu tetap berlalu dan aku berusaha melupakannya, kurasa Ia juga melupakanku. Hingga tiba suatu masa dimana kedua orang tuaku berencanana melakukan perjalanan ibadah melalui biro perjalanan di Jakarta. Dari berbagai opsi teman yang bisa dipercaya dan bersedia meluangkan waktu untuk membantu segala persiapan administrasi, hanya Mas Dito yang segera mengiyakan tanpa penolakan sedikit pun. Segala persiapan keberangkatan hingga kedatangan sama sekali tidak ada kendala. Hingga pada saat kepulangan Ayah dan Ibu tiba, Mas Dito datang bersama Ibunya ke bandara. Dan Ia menyampaikan tujuan utama kedatangannya bersama Ibunya. Namun kondisi saat itu sudah berbeda, aku tidak dalam kondisi bisa memilih. Keputusan telah di buat sebelumnya. Dan lagi-lagi kepulangan setelah pertemuan dengan Mas Dito, berakhir dengan kondisi sesak napas, seakan ketersediaan oksigen di bumi ini tiba-tiba menipis.

———

       Mungkin bukan waktu yang harus disalahkan, kenapa aku tidak bertemu dia sebelum dia. Kenapa bukan Mas Dito yang datang pertama, kenapa harus dia. Mungkin aku yang tidak sabar menunggu, ketika mas Dito merasa dirinya belum siap. Namun ketika Mas Dito siap, kenapa keputusan itu sudah di buat. Aku jauh lebih mengenal Mas Dito jika dibandingkan dengan Ia. Aku tahu bagaimana lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, hobi dan kesukaannya serta bagaimana wawasan ilmu agamanya. Yang jika aku tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan mengenai persoalan sehari-hari terkait wawasan agama, Mas Dito adalah ‘Google’ andalanku. Namun, keputusan telah di buat, dan laki-laki yang akan menjadi imamku, bukanlah Mas Dito. Maka, sebaiknya aku segera berhenti untuk membandingkan.

       Saat ini, aku merasa perasaanku padanya (Ia yang telah ku pilih) tidak akan pernah seperti yang kurasakan padamu, Mas. Hal yang kualami ini membuatku semakin yakin atas kalam-Nya, “..boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216).

       Mungkin Mas Dito merupakan sosok yang aku inginkan, yang aku impikan, yang aku harapkan untuk menemani hari-hari ke depan. Sosok untuk berbagi suka dan duka, sosok yang membuatku menurunkan idealisme yang terlalu tinggi hingga lupa bahwa kita ternyata hanya manusia biasa yang penuh kekurangan. Sosok yang tidak banyak menuntut perubahan, yang menerima segala kekurangan dan bersedia membersamai dalam kondisi apapun. Maaf jika beberapa tahun silam kedatanganmu dengan niat yang baik itu, tidak mendapat respon yang tepat hanya karena logika matematika yang ternyata meremehkan kuasa Sang Pencipta. Terima kasih karena tetap berbuat baik tanpa henti padaku, meski caraku memperlakukanmu dulu tidak baik.

       Maafkan jika aku telah memilih orang yang aku tau dia mencintaiku, yang mengutarakan niat baiknya dan mendatangi dengan cara-cara baik, yang menerimaku sepaket dengan kelebihan dan kekuranganku, serta kekonyolanku yang nanti kalau dia tanya ibukota-ibukota di Kalimantan, aku sudah bisa jawab. Kota-kota di Sumatera juga, biar ga ketuker gara-gara Selai Kaya. Ia yang memilih untuk menghentikan perjalanannya sesaat untuk mengajakku bergabung pada itinerary yang telah Ia susun. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan kembali. Mas Dito jika surat ini telah sampai kepadamu, ku harap masing-masing kita tidak menyesali keputusan-keputusan yang telah kita ambil di masa lalu. Semoga kebaikan-kebaikan yang telah kamu berikan selama mengenalku, akan dilipatgandakan dan kembali padamu.

Dari seorang pengagum yang beberapa hari lagi akan menghapus segala kenangan dan ingatan tentangmu. Mohon doa restu untuk keputusan terbaik yang telah aku ambil tanpa ada kamu di dalamnya. Terima kasih untuk segalanya, Mas.

 

Jakarta,
Minggu, 9 Agustus 2020 @ 9:00 PM
Bandara Soekarno-Hatta Terminal Keberangkatan 2F.
– Tempat dimana harapan itu tumbuh dan mendadak lenyap tak berbekas.

Ringkasan Ilmu

Sebuah Catatan

September 22, 2017

Sewaktu gadis dulu ketika emosi-mu tidak stabil .. saat kegalauan melanda hati.. saat ada masalah dengan teman satu kosan kamu masih bisa bertindak egois dan mengedepankan perasaanmu.

Kamu bisa pergi dari kosan (kabur ke tempat saudara atau tempat sahabat) untuk mententramkan jiwamu.. Kamu bisa curhat ke teman lain tentang perasaanmu agar menjadi tenang..
Kamu bahkan bisa melakukan apapun yang kamu bisa untuk menenangkan hatimu (tentu saja tanpa mendzolimi seorangpun).

KARENA KAMU MASIH SINGLE

Alias yang kamu pikirkan hanyalah badan dan jiwamu.

Setelah berganti status menjadi istri.. banyak yang akan berubah.!

Ketika kamu ada masalah dengan teman hidupmu..
Kamu harus bisa menahan hawa nafsumu..
Ketika kamu ingin keluar sebentar dari rumah.. ingin menonaktifkan segala macam komunikasi denganya.. ketika egomu berkata biarkan dia khawatir terhadapmu.. lakukan apapun..
Kamu tidak akan bisa Seperti Itu..!
Mungkin kamu bisa (jika kamu benar benar orang egois).. tapi kamu tidak boleh..!

Kamu tidak boleh menceritakan masalahmu dengan mudahnya kepada siapapun..!
Siapapun..!

Karena masalah ini bukan seperti masalah dengan teman kos dulu..

Kamu tidak boleh membuatnya khawatir dengan putus komunikasi dan kabur begitu saja tanpa kabar.. karena status kamu sekarang sudah double.

Yang harus kamu urus dan perhatikan bukan hanya perasaan dan jiwamu saja.. tetapi perasaan pasanganmu…

Kamu tidak hanya memikirkan tentang dirimu.. kamu harus pikirkan tentang dia juga.

Saat itulah terasa berat sebagai istri.

Itulah salah satu ujianya sebagai istri.. disitu saatnya kita sadar bahwa surga itu memang tidak semudah itu didapat..
Gelar ‘istri shalehah’ pun bukan hal yang mudah diraih.

Dulu.. bahkan saat kita tidak perduli kepada diri kita.. it’s okay..
Tetapi sekarang jika kamu tidak peduli.. maka akan ada yang sedih karena mengkhawatirkanmu dan kamu tidak boleh membuatnya khawatir.. apalagi ketika kamu telah memiliki anak-anak…

Saat awal menikah kita merasa senang karena telah menyempurnakan separuh agama dan merasa setengahnya lagi kita akan dapatkan dengan mudah..
Ketika mendengar hadits tentang istri shalehah yang bisa memilih masuk syurga lewat pintu mana saja kita merasa senang karena kita pikir dengan menikah.. syurga telah di depan mata.

[ Hadits nya sebagai berikut..Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا صلَّتِ المرأةُ خَمْسَها وصامتْ شهرَها وحصَّنتْ فرْجَها وأطاعت بعلَها دخَلتْ مِن أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شاءتْ

“Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat lima waktu.. melaksanakan puasa pada bulannya.. menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.”
(HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya nomor 4163) ]

Tetapi prakteknya sangat tidak mudah.

Memerangi hawa nafsu dan ego sendiri itu sulit.. (terlebih di umur kita yang masih muda dan usia pernikahan yang masih dini).

Ketika ingin kerja dan suami tidak mengizinkan.. kita harus memendam keinginan itu..
Bahkan ketika berkaitan dengan kedua orang tua yang selama ini menjadi orang yang paling penting di hidup kita saat masih single.. kita harus merelakanya untuk mentaati lelaki yang bernamakan suami..

Jika urusan orang tua saja kita harus relakan.. apalagi hanya urusan pribadi … ?

Ketika kita ingin bertemu sahabat lama dan suami tidak mengizinkan.. saat itu status istri shalehah dipertaruhkan..
Akankah kamu lulus atau gagal dan membangkang terhadap suami.

Apapun alasan suami kita harus terima.. ya! meskipun kita dapat berdiskusi denganya.. memberikan pendapat dengan cara halus.. tetap saja keputusan akhir suami yang harus kita taati dan harus kita terima.

Disaat kita suka warna kuning dan ternyata suami tidak suka melihat kita memakai baju kuning dan menyuruh kita menggantinya.. maka kita harus melawan perasaan kita untuk mengedepankan kesenangan suami.

Artinya..
Kita harus menukar apapun yang kita miliki sebelumnya untuk membuat suami ridha dan senang selama itu tidak melanggar aturan Allah..
Karena saat menikah kita sudah berkomitmen untuk taat kepada dia karena Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَانْظُرِيْ أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّماَ هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Camkan selalu akan posisimu terhadapnya.. sesungguhnya suamimu adalah syurga dan nerakamu”
[Dishahihkan oleh Syeikh albaniy dalam Silsilah Shahihah: 6/220]

Ketika kita ada masalah dengan suami dan tangan ini terasa gatal untuk menulis status di media sosial.. hanya demi memuaskan keinginan kita dan merasa terhibur dengan komentar teman teman. ya! sebatas menghibur bukan menyelesaikan masalah kita..
Karena solusi itu kembali kepada kita.. apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikanya..?

Saat itu tegakah kamu menjadikan suamimu.. orang nomor satu di hidupmu menjadi bahan lelucon orang orang..?

Relakah jika syurgamu (suami) menjadi perbincangan orang… ?

Saat suami menjadi orang nomor satu dihidup kita dan kenyataannya kita bukanlah orang nomor satu di hidup dia.. karena ibunya..ayahnya.. saudarinya telah menempati hatinya.. saat itu kita merasa tidak terima karena kita menuntut agar menjadi orang terpenting di hatinya..
Saat itu kita harus melawan ego kita (lagi), karena Allah telah mewajibkan kita taat suami dan Ia mewajibkan suami taat kepada orang tuanya.

Sudah tidak asing lagi bagi kita sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
لو كنتُ آمرًا أحدًا أن يسجُدَ لأحدٍ لأمرتُ المرأةَ أن تسجُدَ لزوجَها لما جعل اللهُ له علَيها من الحقِّ

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain.. maka aku akan perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya.. disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi suami atas mereka (para istri).”
(HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Bani)

Sudah sangat jelas bahwa kedudukan suami itu sangat istimewa.

Kadang tanpa terasa kita termakan doktrin..bahwa wanita ketika menikah tidak merubah apapun dalam hidupnya.. hanya bertambah teman hidup.. tetapi dia bebas untuk melakukan apapun sesukanya dan suami tidak punya hak untuk melarang.. menahan dll. berdalihkan hak asasi dan kebebasan..

Seorang istri yang taat suami seakan terkekang dalam penjara yang dinamakan ‘RUMAH’..ibu rumah tangga seakan wanita yang sengsara yang mimpinya terabaikan dan keinginanya menjadi tak penting lagi.

Itu semua tidak benar…!! suami disamping menjadi Raja.. ia adalah teman kita.. tempat kita berbagi rasa.. curhat diskusi tentang mimpi.. hobi dan masih banyak lagi. .

Memang benar lelaki tidak akan setara dengan wanita dalam hal ini karena ia memang tercipta sebagai pemimpin dalam rumah tangga.

Telah jelas di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

“Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….”
(Al-Baqarah: 228)

Jadi..mungkinkah syurga bisa kita raih tanpa pengorbanan ?

Mungkinkah gelar istri sholehah bisa di dapatkan tanpa adanya perjuangan ?

Dengan memakai kerudung dan banyak ibadah tidak cukup untuk meraih gelar tersebut.. dengan sering belajar agama tidak menjamin telah menjadi istri yang baik.. juga shalehah.

Itu semua (menutup aurat..beribadah belajar agama) memang kewajiban seorang muslimah dan menjadi sarana untuk mendapatkan gelar mulia itu.

Tetapi ketika kita telah meruntuhkan benteng egoisme dalam jiwa wanita Kita dan bersedia untuk menjaga dan menghormati pasangan..
Bersedia mentaatinya dan patuh akan semua yang dia perintahkan dan berusaha menjauhi apa yang dia tidak suka,

Maka semoga usaha yang tidak mudah itu pada akhirnya menghantarkan semua kepada syurga Allah,

hanya Ia yang dapat menentukan apakah telah lulus menjadi ‘istri shalehah’ ?

Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha dan berusaha sampai tidak ada kesempatan lagi untuk berusaha.

Selamat buat para istri yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seorang muslim.. melayaninya dengan penuh kesabaran.. menerima kekuranganya dengan tanpa mengeluh. menemaninya dalam kehidupan yang setiap harinya fitnah (godaan) semakin menyebar.

Selamat buat para istri yang telah bersusah payah mengubur keegoisan dan menjunjung tinggi suaminya..membelanya.. menutupi aibnya dan juga menjaganya dengan do’a.

Semoga yang kalian lakukan akan berbuah kebaikan yang banyak pada rumah tangga kalian.. Allah akan ganti setiap usaha kalian dengan kesehatan untuk setiap anggota keluarga.. keberkahan.. kelancaran urusan dan kedekatan kalian dan pasangan kepada Allah ta’ala..
Tak lupa pahala yang tanpa batas dan surga yang sangat luas.

Aamin Yaa Rabbal ‘alamin.

Catatan :

– Sebelum menikah posisi orang tua adalah diatas segalanya (setelah Allah)..
Tetapi kita tidak hidup bersama orang tua seperti kita hidup bersama suami.. maka dari itu pada tulisan diatas bercerita seakan ketika menjadi anak dapat berlaku egois dan tidak memperdulikan kekhawatiran orangtua. (semoga tidak disalahpahami) 😊

– Tulisan diatas hanya berbicara tentang istri dan fokus kepada kewajibanya. tanpa menafikan kewajiban dan tugas suami terhadap istri..

Tanggung jawab suami juga besar.. oleh karena itu banyak yang harus seorang suami perhatikan dalam memimpin bahtera rumah tangganya.

– Tulisan diatas hanya menggambarkan sisi beratnya menjadi istri.. agar para wanita dapat mempersiapkan segala sisi jika ingin melangkah kepada pernikahan,. tanpa menafikan sisi positif dan kelebihan juga kebahagiaan yang akan didapat setelah menikah.

(Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizhahullah)

Puisi

Tuan

August 17, 2017

Hai, Tuan

Apa kabar?
Bagaimana langit malammu disana?
Apa benar langit malam yang kau lihat masih sama denganku?

Belakangan ini, rindu sudah sangat keterlaluan
Ia datang dan pergi sesuka hati
Kalau sekedar berpapasan, aku tidak akan memperdulikan
Ia tidak sekedar datang Tuan
Ia mengoyak tubuhku serta menggoreskan luka

Ia memang datang sesekali
Namun, segera pergi
Tanpa sempat kutanya, apa yang kau cari
Ia hanya meninggalkan sesuatu
Sembari berbisik, ia katakan
Harapan

*
Duhai Allah Sang Pemilik Hati
Yang Maha Membolak-balikkan Hati hamba-Nya
Kalau rindu ini terlalu menyesakkan dada
Sehingga bernafas pun susah, ambil rasa ini, ya Allah
Netralkan kembali
Hambamu ini merasa berat
*

Wahai Tuan
Sungguh aku belum berani bertanggung jawab atas perasaan ini
Aku ingin tahu apa kau pun merasakan hal yang sama
Atau ternyata hanya aku saja
Yang tersiksa tersebab rindu tak bertuan ini

Tuan
Bersediakah engkau bertukar peran?

FF & Cerpen

Perjalanan Rasa

July 18, 2017

Ini adalah kisah gue, Tyo, seorang cowok ganteng yang sebenernya sudah menjatuhkan pilihan teman hidup pada seorang wanita bernama Nesa tapi sampai saat ini belum bisa merubah statusnya di KTP.

Enak aja! Ini cerita tentang aku, Nesa, seorang perempuan yang masih sibuk mengurus dirinya sendiri, sibuk membandingkan si A, si B, si C hingga saat ini masih belum menentukan pilihan. Cewek paling ribet, paling kompleks dalam menentukan pilihan. Perlu analisa panjang, pertimbangan dari segala aspek, puasa senin kamis, sampai mandi kembang 7 rupa demi menentukan sebuah jawaban. Yang terakhir lebay ding hahaa..

“Sa, biar gue nyelesein kisah gue duluan. Ntar lu pake judul yang lain deh.”

“GA! Aku juga mau cerita. Lagian cowok ngalah dikit napa ama cewek.”

“Oke, biar adil kita gantian. Gimana?”

“Okayy… Dimulai dari aku dulu yaaa…”

“Tapi Sa, wait…”

—–
#Nesa

Halo semua, aku Nesa. Di kisah ini aku ga akan ceritain siapa Tyo, biar dia cerita tentang dirinya sendiri nanti. Palingan cuman bahas gimana si Tyo itu (lah, apa bedanya cuy..), apa hubungan dia sama aku, bagaimana kami bisa saling kenal dan seperti apa hubungan kami saat ini. Kalau diperkenalan awal dia kepedean ngaku-ngaku ganteng, honestly, doi emang ganteng. Tapi kan cowok ganteng itu makin keren kalau dia ga merasa ganteng dan stay cool yak. Ini karena dia pedenya teramat sangat jadi agak gimanaa gitu…

Tyo yang kukenal selama 3 tahun terakhir, makin kesini dia makin banyak berubah. Mungkin karena dulu ga kenal-kenal amat kali ya. Terakhir ketemu dia sekitar 2-3 bulan yang lalu. Sosoknya berubah dari yang awalnya kukenal sangat kaku, ternyata ramah juga. Yang paling ga nyangka, dia ternyata bisa bercanda! Ya walaupun level candaannya masih beginner, tapi ya “nice try lah ya“. Pertemuan kami kemarin seperti bentuk akumulasi rindu setelah setahun tak bertemu. Kukira perasaanku kepadanya sudah benar-benar hilang, karena ia tiba-tiba menghilang setelah kami sebegitu dekatnya. Dulu.

H-1 sebelum bertemu dengannya, mendadak banyak kupu-kupu yang menari-nari di perut, entah di bagian lambung atau ginjal. Serta senyum yang mengembang benar-benar tak lepas dariku. Padahal jadi atau tidaknya pertemuan kami pun masih belum pasti, karena agenda Tyo sangatlah padat saat berada di kota tempatku berada. Tapi alih-alih melupakan yang tidak pasti, rasa deg-degan menyambut kedatangannya benar-benar tak bisa terlepas meski sedetik. Ah aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya di akhir pekan ini.

“Sa, sabtu malam, gue kayanya bisa nih. Urusan udah pada kelar.”

“Oke, di Mall ini aja ya, sekalian mau liat-liat travel fair sama temen yang mau liat paket liburan.”

“Oke ketemu disana ya.”

—–

Sore itu sebelum perjumpaan kami, aku bertemu dengan teman-teman kampus yang juga hunting tiket liburan dengan diskon gila-gilaan di sebuah Mall di kota Surabaya. Sebelum ikut berburu, aku ditemani beberapa teman untuk mengisi amunisi (baca: makan) di sebuah resto. Menu nasi goreng yang tadi ku pesan ternyata cukup untuk 4 orang, beruntung di depanku duduk tampan (klo temannya cewek, jadinya duduk cantik :p) seorang teman bernama Andi yang bersedia menemani menghabiskan porsi tersebut, meski pada akhirnya kami menyerah dan nasi goreng tersebut kami bungkus. Detik-detik menjelang pertemuanku dengan Tyo semakin dekat dan aku semakin gelisah karena tidak tau apa yang nanti harus diobrolkan, apakah outfit yang ku pakai hari ini cocok untuk bertemu dengannya, dandanan hari ini norak atau ga pas ketemu dia. Duh!

Ketika kepanikan melanda, mendadak aku terbayang beberapa tahun lalu bagaimana awal perjumpaan kami di Ibukota. Sungguh sosok yang aku tunggu kedatangannya malam ini, jika ditarik mundur ke beberapa tahun yang lalu, benar-benar sosok yang tidak ingin ku temui lagi di masa depan.

Puisi

Mengagumi Dari Jauh

June 6, 2016

Jika kamu diselimuti ragu
Masih merasa kurang ilmu
Dan perlu tambahan waktu
Tak apa, maka persiapkanlah sebaik-baik persiapan

Jangan berperang tanpa strategi
Ataupun berlayar tanpa arah
Karena seorang pemimpin tidak dilahirkan tanpa perjuangan
Dan nahkoda handal tidak diciptakan dari laut yang tenang

Banyak hal yg bisa dilakukan selagi masih sendiri
Meski sendiri bukan alasan untuk tak beraktualisasi
Memang pelajaran hidup tak melulu tentang teori
Tapi bukannya amal yg benar dilakukan jika disertai ilmu

Aku memang tak bisa menyentuhmu
Bahkan jika rindu ini memuncak, hanya doa yg bisa memelukmu
Maka, sebelum waktunya tiba izinkan aku hanya mengagumi dari jauh

Ringkasan Ilmu

Pelajarilah Dahulu Adab dan Akhlaq

January 29, 2016

Bismillaahirrahmaanirrahiim

💎Pelajarilah Adab Sebelum Mempelajari Ilmu

Ketahuilah bahwa ulama salaf sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Guru penulis, Syaikh Sholeh Al ‘Ushoimi berkata, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.”

Oleh karenanya, para ulama sangat perhatian sekali mempelajarinya.

👤Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

👤Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

👤Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

👤Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

👤Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.”
📒(Al Madkhol, 1: 164)

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya”
📒 (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

Yang kita saksikan di tengah-tengah kita, “Talk more, do less (banyak bicara, sedikit amalan)”.

💎Berbeda Pendapat Bukan Berarti Mesti Bermusuhan

Sungguh mengagumkan apa yang dikatakan oleh ulama besar semacam Imam Syafi’i kepada Yunus Ash Shadafiy -nama kunyahnya Abu Musa-. Imam Syafi’i berkata,

يَا أَبَا مُوْسَى، أَلاَ يَسْتَقِيْمُ أَنْ نَكُوْنَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِيْ مَسْأَلَةٍ

“Wahai Abu Musa, bukankah kita tetap bersaudara (bersahabat) meskipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?”
📒 (Siyar A’lamin Nubala’, 10: 16).

💎Berdoalah Agar Memiliki Adab dan Akhlak yang Mulia

Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Allahumma inni a’udzu bika min munkarotil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa’ [artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar].”
📒(HR. Tirmidzi no. 3591, shahih)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].”
📒(HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

أسأل الله أن يزرقنا الأدب وحسن الخلق

Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar mengaruniakan pada kami adab dan akhlak yang mulia.

Aamiin

🌐muslim.or.id

Puisi

Lupa

November 21, 2015

Lantas kamu menyalahkan sang waktu, karena telah mempertemukanmu dengan dia sebelum dia.

Kamu lupa bersyukur.

Bukankah pertemuanmu dengannya membuatmu belajar banyak hal, baik tentang hidup, tentang masa depan, tentang kedewasaan.

Bahkan, di pertemuan-pertemuan yang akan terjadi nanti (entah dengan siapa pun), kamu juga akan belajar lebih banyak hal lagi.

Tetaplah bersyukur, atas segala kesempatan yang telah diberikan-Nya padamu.

Yakinlah tidak ada maksud lain dari-Nya kecuali membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.

 

 

 

Surabaya, 21 November 2015 | Inspirasi: Sebelum bertemu denganmu

Ringkasan Ilmu

Jebakan Maut Kartu Kredit!

October 1, 2015

Kawan saya wajahnya kuyu, pengusaha bisnis kesehatan di Jakarta. Bisnisnya sedang turun drastis, beberapa cabangnya gulung tikar.
“Pusing gue, utang gak selesai-selesai, apalagi kartu kredit nih.. Masih 150 juta, capek ngadepin debt collectornya”

Kawan saya lainnya di Jogja, gaya hidup semu yang dulu dilaluinya membawa dampak tak juga berakhir, aset-aset kemewahan telah dia jual, termasuk motor besar yang dulu menghiasi foto facebooknya.
“Masih berapa hutang kartu kreditmu?” Tanya saya
“Duh! Masih 265 juta lebih.. Ya gimana lagi dah dipakai duitnya, bayar minimum payment gak kurang-kurang juga hutangnya..”

Satu lagi, kawan saya juga ada, sudah 3 bulan tagihan 75 juta kartu kreditnya tak terbayar, rumah disatroni debt collector yang kasar sudah jadi langganan. Fiuuuh!

Saya pun jadi korban, karena nomer HP saya tercatat diperbank-kan bahkan mungkin sudah diperjual belikan, walaupun saya sudah tidak punya kartu kredit apapun, bulan lalu saya dapat SMS dengan huruf besar semua:
BAPAK SAPTUARI SUGIHARTO, SAMPAIKAN KEPADA TEMAN BAPAK PENGUSAHA XXX DI JOGJA YANG ALAMATNYA DI GEJAYAN UNTUK SEGERA MEMBAYAR KARTU KREDITNYA SENILAI 16,7 JUTA YANG SUDAH TELAT BAYAR. ATAU HUBUNGI KAMI DI 024-SEKIAN SEKIAN DI SEMARANG.

….. Gendeng!!! Kalo kalian jadi saya pasti pengen “misuh” juga. Ini siapa dengan SMS memerintah seenaknya pakai huruf besar, Saya mikir enteng sajalah, mungkin dia masih pakai HP keypad yang capslocknya jebol!

Masih inget kasus Irzen Octa tahun 2011 lalu, ketika mau membayar tagihan kartu kredit dari 48 juta yang membengkak jadi 100 juta, dia malah diinterogasi kasar oleh 3 debt collector yang membuatnya meninggal dunia. Searching aja beritanya, masih bertebaran di dunia maya…

————————
Mari kita bahas.. Siap?

Continue Reading

Ringkasan Ilmu

Menikahlah, Maka Kau Akan Kaya

September 29, 2015

📚 Notulensi “PreWed School” bersama Yayasan AISI Depok.

🏰 Masjid SDIT Rahmaniyah, Sukmajaya, Depok.

📜 Ahad, 20 September 2015.

📝📝📝

🎓 Tema: Menikahlah, Maka Kau Akan Kaya.

👩 Ustazah Kaukabus Syarqiyah, SE, M.SE, CFP.

☎ 0813-1085-0910

📱 FB → Kaukabus Syarqiyah

💻 Youtube → KikauTalk

✅ Ketika menikah, banyak plan sebelum menikah berubah.

✅ Tuliskan visi, misi, mimpi-mimpi kita 5-10-12-15-20-25 tahun kedepan.
Ini salah satu upaya kita untuk menjaga supaya kita tidak futur, tidak lari dari dakwah.

✅ Apa saja mimpi keuangan kalian & pasangan?

✅ Perempuan itu ketika sudah melahirkan, sudah tidak menjadi dirinya sendiri. Dia menjadi istri seseorang, dia menjadi Ibunya seseorang, bisa jadi dia melupakan siapa dirinya sebenarnya.
Bagaimanapun perempuan punya kepribadian masing-masing.
Pasutri wajib saling support untuk memaksimalkan potensi positif masing-masing.

✅ Perencanaan Keuangan adalah suatu langkah-langkah menyeluruh untuk mencapai tujuan keuangan.

✅ Jangan lihat laki-laki dari asetnya & jangan menikah dengan laki-laki pemalas.

✅ Lihat calon pasangan FUTURE VALUE.

✅ Carilah laki-laki yang bertanggungjawab, rajin bekerja, tidak gengsian dalam hal yang halal.

✅ Kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja keras TIDAK AKAN berkhianat.

✅ Aset sejati sebelum menikah adalah → DIRI KITA sendiri.

✅ Pernikahan dapat berakhir hanya karena masalah finansial.

✅ Sedapat mungkin Suami jangan menurunkan standar hidup si Istri dari sebelum menikah ke setelah pernikahan. (ini dikutip dari Ustaz Anis Matta)

✅ Jangan takut dengan kondisi awal pernikahan. Secara ekonomi, itu ngga masalah.
Yang bikin NGERI itu adalah perasaan orangtua. Dan kalau sudah berhadapan sama orangtua itu WAJAR.
Orangtua itu udah lebih dulu ‘makan asam garam’, lebih dulu tau rasanya ngga enaknya ngga punya uang, hidup susah, ITU KARENA MEREKA SAYANG SAMA ANAKNYA JANGAN SALAH-SALAHIN ORTU KITA NGGA NGERTI AGAMA.
Selama agama & akhlaq si laki-laki itu baik ya…

✅ Saran untuk akhwat, lihat laki-laki dari mau atau tidaknya dia bekerja keras!

Continue Reading