Browsing Tag

travel

Tulisan

Jarak

September 2, 2015

Katanya, jarak dibuat agar kita lebih menghargai setiap momen yang telah kita lalui, lebih realistis menghadapi apa yang kita jalani saat ini sembari mempersiapkan apa yang akan terjadi nanti. Maka, berterima kasih pada Allah adalah salah satu cara untuk berdamai dengan jarak. Karena kita tahu, tidak semua orang diberi kesempatan yang sama untuk menjalani kehidupan yang kita alami. Karir, pertemanan dan keluarga merupakan variabel yang dipengaruhi oleh jarak. Bagaimana sebuah perjalanan merintis karir yang juga mempengaruhi perjalanan hidupmu. Kesempatan berkeliling di dunia baru, mempelajari hal-hal unik serta bertemu dengan berbagai macam karakter manusia. Iya, pertemuan. Pertemuan dengan orang-orang baru yang memicumu untuk menjalin pertemanan lalu mempertahankan. Sehingga orang-orang baru itu ikut berpengaruh pada proses pendewasaanmu. Begitupun keluarga, tempat kau tahu kemana kau akan pulang.

Mungkin jarak ini diatur sedemikian rupa agar kita lebih menghargai arti perjalanan, arti sebuah proses untuk akhir yang terbaik sesuai dengan skenario-Nya. Sebagai cara untuk melatih kesabaran meskipun jarak memisahkan. Melatih ketaatan ketika sendiri dan jauh dari keramaian. Serta melatih rasa percaya, percaya bahwa rezekimu takkan tertukar.

Aku mengagumimu seperti rasa kagumku pada senja. Sebagaimana senja selalu ingat untuk memberikan pertanda, bahwa ini saat yang tepat untuk pulang. Meski ia akan tergantikan oleh sang malam, esok ia pasti akan datang kembali. Memberi pertanda sudah saatnya pulang. Memang sulit untuk memiliki senja hanya untuk diriku sendiri, karenanya ia kukagumi saja. Hanya kujadikan pertanda bahwa sudah waktunya untuk kembali pulang. Pulang ke rumah dimana kamu berada. Kamu tak perlu sedih dengan perkara jarak ini, jika memang takdir kita bersama, Allah tahu waktu yang tepat untuk kita menjadi dekat. Ingat, jarak ini ada bukan untuk menghukummu, tapi ini untuk menjaga aku dan dirimu. Juga sebagai pengingat, bahwa kita belum berada di saat yang tepat. Masih ingat kan kalimat kesukaanku, “Know that Allah has perfect timing for everything. Never early and never late. But it takes a little patience and a lot of faith.” Mari kita percaya dan mempercayakan hidup kita pada-Nya. Kamu sudah tahu kan bahwa meskipun kamu pergi, Ia tetap bersamamu kemanapun kamu berada.

Distance means nothing when someone means everything ❤

Tulisan

Feeling 22

August 25, 2015

To be honest, I got several things to worry about. And it quiet disturb me almost every day. But as Taylor Swift said in one of her songs, “Everything will be alright, if we just keep dancing like we’re 22.” And here’s come the day when people said “Selamat seperempat abad”. Age just a matter of number, right. Being 25, I think there will be more responsibility and I still got some items in the waiting list. Actually, I have no idea on what should I write today, but maybe just a short note on what happened in the past three months.

Everything will be alright, if we just keep dancing like we’re 22..

Continue Reading

Tulisan

Pilihan

April 30, 2015

Pernah gak sih nulis rencana-rencana yang akan dilakukan selama hidup kalian, kemudian setelah beberapa tahun kemudian kalian baca ulang rencana-rencana tersebut. Beberapa minggu yang lalu, saya membuka ulang catatan di agenda saya yang berisi rencana hidup yang saya buat di tahun 2011. Alhamdulillah beberapa hal sudah tercapai dan saya berencana untuk menambah serta memperbarui rencana-rencana yang sudah saya tulis di 2011.

Semakin bertambah usia kita, kita dihadapkan dengan banyak pintu yang memiliki tujuan yang berbeda. Tak usah ragu, tak usah bimbang. Ikuti saja kemana hati kecilmu memilih. Akan ada resiko di masing-masing pintu yang kau pililih itu. Pilih dan jalani pintu yang memiliki banyak manfaat walaupun resikonya juga paling besar. Hari ini saya kembali dihadapkan dengan pilihan. Setelah menjalani beberapa tahun tinggal sendiri dan jauh dari keluarga tiba-tiba datang kesempatan emas untuk dapat kembali bercengkrama bersama keluarga. Kesempatan ini hadir sesuai dengan rencana yang saya buat di tahun 2011. Honestly, saya belum berani mengambil kesempatan tersebut. Masih banyak hal yang ingin saya lakukan dan terlalu banyak sesuatu yang harus dipertaruhkan jika saya ambil kesempatan tersebut.

Kembali ke beberapa masa yang telah berlalu. Saya dihadapkan pada dua pintu. Kedua pintu tersebut dengan mudah saya dapatkan. Yang saya yakin ada kuasa Allah atas kemudahan tersebut. Saya memilih pintu menuju dunia baru, dunia luar, dunia diluar zona nyaman saya. Tinggal jauh dari keluarga dan sanak saudara. Iya, memang beresiko tinggi namun saya yakin kedua orang tua saya tidak akan serta merta melepaskan saya begitu saja. Mereka masih memeluk saya setiap hari setiap saat dalam doa. Saya takkan menyia-nyiakan kesempatan ini karena perjalanan ini memang penuh resiko dan tantangan. Semuanya bergantung sudut pandang kita dan bagaimana kita bersikap dalam menyelesaikan perjalanan yang sementara ini.

“Nanti setelah kau lelah berjalan dan tau bagaimana rasanya berjuang. Kau akan tau kemana kau menuju dan betapa indahnya pulang ke rumah.”