Mencintaimu dengan Sederhana

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana deburan ombak kepada pasir pantai. Pergi sejenak namun selalu kembali. Sesederhana angin yang menyapa dedaunan. Akan selalu datang meski musim silih berganti. Sesederhana gemericik air di aliran sungai menuju muara. Dan sesederhana hujan yang membawa aroma ketenangan di setiap ia datang.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Sesederhana mentari pagi yang rela berganti dengan sang malam. Namun ia tahu bahwa esok akan kembali lagi. Sesederhana alunan merdu kicau burung di pagi hari. Memulai hari dengan menyapa setiap insan di bumi. Sesederhana garam dan gula yang meskipun takarannya sedikit tapi berpengaruh besar pada indra pengecap. Sesederhana bergerak bersama mengumpulkan kenangan. Sebagai bekal di hari-hari ke depan.

Untukmu. Yang merekahkan senyuman di setiap pertemuan. Yang memberikan ketenangan di setiap kebimbangan. Yang menatap penuh kasih sayang meski dari kejauhan. Seorang kekasih yang memulai kisah cintanya bersama-sama dan tetap akan kembali bersama di perjalanan-perjalanan berikutnya.

Resep Tongseng Kambing

Hari Raya Idul Adha pasti identik sama daging. Idul Adha kali ini ga bisa pulang kampung karena adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), jadi lebaran di Bojonegoro aja sambil cobain resep baru. Biasanya daging qurban pasti dijadiin sate, nah kali ini aku mau nyoba bikin tongseng karena jujur tongseng adalah menu yang dulu pernah aku coba, tapi langsung ga suka. Kaya ga cocok gitu sama rasa kuah, daging, sayur kol, aneh di lidah. Dulu nyobain pertama pas lagi di Jakarta, tongseng ini jadi pasangan pas makan sate ayam atau sate kambing. Gara-gara itu, aku jadi penasaran mau bikin lagi pake resep yang aku temuin di website, entah cookpad atau dimana gitu uda agak lupa. Ternyata kok resepnya gampang banget. Bahan bumbunya uda ada di rumah, jadi tinggal eksekusi aja.

Bahan halus:
1. Bawang putih
2. Bawang merah
3. Cabe keriting – 2
4. Cabe rawit – 7
5. Kemiri bakar – 1

Bahan lain:
1. Sereh – 1
2. Daun salam – 2
3. Daun jeruk – 4
4. Jahe
5. Laos
6. Ketumbar
7. Totole, garam, gula, lada
8. Kecap
9. Jeruk nipis
10. Bawang daun/ loncang
11. Kol
12. Tomat potong dadu
13. Daging sapi/ kambing
14. Santan cair/ bubuk

Belakangan ini aku uda jarang ngupas bawang merah, bawang putih. Karena lebih enak nyetok bawang merah dan bawang putih yang uda dihalusin terus simpen di kulkas. Kalau mau masak, tinggal sendok aja. Ga ada drama nangis karena mata perih ngupas bawang hehe.. Jadi di resep ini ga pake jumlah bawang merah dan bawang putih yang diperluin. Langsung aja ke tahapannya ya.

  1. Panaskan teflon beberapa detik.
  2. Masukin bawang putih dan bawang merah yang sudah dihaluskan. Ga perlu kasih minyak goreng karena pas ngeblender bawang uda aku kasih minyak.
  3. Masukin cabe keriting, cabe rawit dan kemiri yang sudah dihaluskan.
  4. Tumis sampai harum. Tambahkan sereh yang uda di geprek. Masukkan daun salam, daun jeruk dan jahe yang sudah di geprek. Tambahin laos bubuk dan ketumbar. Lalu, aduk merata.
  5. Masukin daging yang uda di rebus sampai empuk dan uda di potong-potong kecil. Aduk rata sama bumbu biar ngeresep bumbunya.
  6. Tambahkan air kaldu. Air yang di pakai buat rebus daging. Kalau kurang, tambahkan air mineral. Aduk lalu tunggu sebentar sampai mendidih. Kemudian tambahkan santan cair atau bubuk. Dan aduk
  7. Masukan kol, lalu tomat, dan bawang daun.
  8. Tambahkan totole, gula, garam dan lada. Koreksi rasa sampai sesuai selera yang diinginkan.

Resep di atas anti gagal dan pasti ngabisin nasi banyak. Oh iya, cabe rawit 7 itu ternyata hasilnya pedes banget. Jadi kalau mau pedesnya sedang atau cukup, mungkin bisa pake rawit 3 aja. Pas bikin resep ini hasilnya super pedasss. Jadi, koreksi yang aku lakuin dengan cara nambahin, kecap manis, gula dan garam. Biar makin segar di lidah, aku tambahin jeruk nipis dikit terus aduk rata. Hasilnya, enak banget. Langsung pengen cepet-cepet ambil nasi di piring.

Ada satu lagi nih rahasia enak resep daging, diinepin semalem. Maksudnya kalau kita bikin hari ini, terus besok pagi diangetin lagi. Di jamin masakan yang uda enak itu, bakal lebih enak lagi karena si daging uda ngeresep bumbu. Jadi pengen nyoba resep perdagingan yang lain nih. Apa lagi ya…?

Surat untuk Pemimpin Peradaban

Salam untukmu, Sang Pemimpin Peradaban

Terima kasih sudah berjalan sejauh ini
Terima kasih karena tidak menyerah semudah itu
Saya percaya hal ini tidak lepas dari ketetapan Tuhan
Masa lalu kita adalah milik masing-masing kita
Detik ini dan segala kemungkinan di masa depan adalah rangkaian yang perlu diperjuangkan

Melalui tulisan ini semoga anda bisa mengenali saya
Milik Tuhan lah segala kesempurnaan
Dengan menyebut nama-Nya yang jiwa saya ada dalam genggaman-Nya
Yang memiliki kerajaan langit dan bumi

Ketahuilah,
Saya ini lemah
Terlihat sangat kuat
Tidak membutuhkan siapapun atau apapun di dunia
Percayalah itu mekanisme pertahanan diri
Tapi perlindungan diri semacam tendangan kaki setinggi kepala bisa tipis-tipis

Saya pendiam
Tidak suka banyak bicara
Apalagi membicarakan hal yang tidak ada manfaat
Saya lebih memilih diam dan menahan diri
Namun jika topik pembicaraannya saya suka dan kuasai
Dengan suasana hati yang baik
Satu jam akan terasa sedetik

Saya bukan pendengar yang baik
Saya menolak mendengarkan hal-hal yang tidak baik menurut saya
Tapi, jika yang anda sampaikan adalah hal-hal baik dan bermanfaat, akan saya dengarkan dan perhatikan dengan seksama
Bahkan akan saya catat dan saya abadikan dengan tulisan

Sosok keras kepala dan tidak mudah diatur
Orang tua saya akan membantu anda sebagai validasi
Untuk hal-hal yang kurang berkenan di hati,
Saya lebih suka berdiskusi
Apalagi jika disampaikan dengan cara yang baik dan santun
Jangankan memindahkan bukit
Mengambil bintang di langit
Akan saya penuhi (agak berlebihan ini *maaf)

Saya seorang pemarah
Yang marahnya mengeluarkan ribuan kata di kepala
Hingga tidak ada kata yang terucap
Kalau masih keluar satu kata
Itu protes kecil

Wahai Pemimpin Peradaban
Anda akan menemui hal-hal tidak baik dalam diri saya
Yang mugkin sudah terlihat sebelumnya
Atau di waktu yang akan datang
Saya sedang memperbaiki diri
Dan semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya

Untukmu,
Sang Pemimpin Peradaban
Saya punya banyak kenginan
Yang sifatnya kekal

Aku ingin selalu dekat dengan Tuhan kita dan utusan-Nya
Ingin selalu dekat dengan keluarga, anak, cucu keturunan
Jika keinginan anda berbeda, perkenankanlah

Menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya
Menjadi perantara kebaikan bagi orang lain
Memiliki harta dan umur yg berkah dan bermanfaat
Untuk agama, keluarga dan masyarakat
Mudah meluangkan waktu berkualitas untuk keluarga
Dan selalu bersyukur atas segala hal
Jika keinginan anda sama, semoga Tuhan izinkan kita

Jika berat, Tuhan yang beri kemudahan
Atas izin Tuhan pula kita diberi kesanggupan
Dan jika anda merasakan sedikit keraguan, maka tinggalkanlah


Rest Area KM 57-102, 2022

Dateng ke Bojonegoro Buat Cari Cuan atau Liburan?

Tidak terasa hampir 4 tahun, saya tinggal di Bojonegoro. Perubahan tata kota dan masyarakat yang majemuk membuat saya betah dan jatuh cinta berkali-kali dengan Kota Bojonegoro. Kalau boleh memilih kota paling favorit untuk ditinggali, mencari penghasilan dan menghabiskan sisa waktu di masa depan, Kota Bojonegoro ada di list teratas. Lahir dan besar di Surabaya, tidak membuat Surabaya menjadi kota yang ingin saya tinggali dalam jangka panjang. Cukup rumit dan padat untuk tinggal di kota besar yang terlalu bising dengan ritme hidup yang terlalu cepat. Bojonegoro, sebuah kabupaten di Jawa Timur, dengan jarak tidak terlalu jauh dari Surabaya, membuat saya tetap bisa mengunjungi orang tua sewaktu-waktu jika diperlukan. Merasakan ketenangan dalam menjalani hidup secara perlahan dan utuh, atau bahasa kekiniannya slow living, bisa saya rasakan di Kota Bojonegoro ini. Tinggal di dekat dengan areal persawahan, sapaan kicau burung di pagi hari dan ditutup dengan jutaan bintang setiap malamnya. Ah iya satu lagi, jika sedang berada di musim penghujan, saya berasa tinggal di area perbukitan atau kaki gunung. Suhu yang dingin serta sahut-sahutan katak dan binatang malam lainnya membuat saya merasa sedang piknik di kota seperti Bogor dan Batu, Malang. Satu catatan mengenai kualitas udara Bojonegoro yang cukup baik, jika di cek melalui aplikasi AQI (Air Quality Index). Saya merasa Tuhan sangat tepat menempatkan saya di kota ini. Banyak hal baru yang saya pelajari dan syukuri disini. Bertemu dengan tetangga sekitar yang sangat baik terasa seperti saudara sendiri, teman-teman yang supportif, team di pekerjaan ataupun komunitas yang mendukung pertumbuhan karakter saya menjadi lebih baik.

Berbatasan langsung dengan Tuban di bagian utara, mudah bagi saya jika ingin menikmati hidangan laut yang segar dan variatif. Jika ingin berlibur ke arah Solo dan Yogyakarta juga tidak terlalu jauh, perjalanan darat ke arah barat lewat Ngawi cukup ditempuh dalam waktu 3 jam dengan harga 60 ribu rupiah. Nanti akan saya ceritakan bagaimana tips backpacker trip ke Jogja dengan harga murah berangkat dari Terminal Bus di Jalan Veteran Bojonegoro. Di timur Bojonegoro berbatasan dengan Kabupaten Lamongan, rute saya untuk pulang ke Surabaya dan di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Jombang. Salah satu target wisata kuliner saya ke arah selatan Bojonegoro, mencoba makanan-makanan khas Jawa Timur langsung dari lokasinya, seperti pecel, ayam asap, bluder dan lain sebagainya.

Saya mencoba membuat ringkasan mengenai rekomendasi tempat-tempat yang pernah saya kunjungi selama di Bojonegoro. Termasuk wisata alam, kuliner, belanja murah meriah dan rekomendasi lainnya yang bisa didatangi bersama keluarga, pasangan, teman dan siapapun yang mau di ajak. Pilihan kuliner yang beragam serta tempat ngopi dari yang berupa warung, kedai, atau Resto yang cukup seru dengan harga terjangkau untuk dicoba selama berada di Bojonegoro. Oh satu lagi, area outdoor atau open space super lengkap dan seru untuk berbagai event di Bojonegoro.

Daftar ini akan saya update setiap saat, kalau saya menemukan tempat yang baru dan layak direkomendasikan. Sebagai catatan, setiap orang memiliki selera dan preferensi yang berbeda, skor tempat-tempat di tulisan ini berdasarkan subjektivitas saya ya. Ga boleh protes hehe… Eh boleh deh, siapa tau seiring berjalannya waktu tempat-tempat rekomendasi saya di bawah banyak berubah, entah jadi lebih baik atau sebaliknya. At least, nama tempat yang saya tulis di bawah ini berdasarkan pengalaman saya dan sudah pernah saya coba. Yang tidak ada di daftar ini, kemungkinan besar belum pernah saya coba atau karena saya ga cocok dengan tempat tersebut hehe… entah karena vibes atau prinsip yang bertentangan *wuidih bawa-bawa prinsip wkwk.. Mostly, lebih ke belum sempat nyoba aja.

Selamat mencoba rekomendasi dari saya, untuk bertukar pesan bisa tinggalkan pesan di komentar ya. Untuk foto, deskripsi, Gmaps location atau kontak person, saya update bertahap ya. Yang penting ke kumpul dulu ini katalog Bojonegoro tercinta hehe..

Wisata Alam, Budaya, dan Keluarga

1. Negeri Atas Angin (3.5 / 5)
Pertama kali saya mencoba mendatangi tempat ini sekitar tahun 2018, dimana kondisi jalan masih berbatu dengan ketinggian ekstrim lebih dari 30 derajat. Motor yang saya kendarai bersama seorang teman sesekali berjalan sangat pelan karena takut longsor jalanan berbatunya. Perjalanan dari Cepu ke salah satu titik tertinggi di Bojonegoro ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih. Kedatangan kedua saya di musim kemarau tahun ini, membuat saya sedikit menyesal karena kondisi persawahan tidak sedang berwarna hijau melainkan kering kecoklatan. Namun, kondisi jalan sudah jauh lebih baik, 90% lebih jalanan sudah di aspal. Sayangnya, setibanya disana kondisi toilet tidak terawat dan tidak ada air. Karena pipa airnya tidak sengaja tergerus alat berat untuk perbaikan jalan.

2. GoFun Entertainment Park & Waterpark (4 / 5)
Skornya bagus karena pernah nonton konser Sheila on 7 dengan tiket VIP sambil duduk, dapat minum dan sedekat itu ngeliat Mas Duta hahaa… Salah satu tempat yang bisa dikunjungi bersama keluarga, terdapat area bermain dan kolam renang. Jujur saya belum pernah mampir ke area kolam renang, belum minat hehe..

3. Air Terjun Kedunggupit, Klino (5 / 5)
Awalnya kesini sebenarnya karena nyasar, harusnya bukan air terjun ini yang mau dikunjungi. Tapi, jadi dapet skor sempurna, karena lokasinya di tengah pemukiman penduduk dan tersembunyi di balik bukit persawahan. Mengunjungi Air Terjun ini, saya berasa menjadi host My Trip My Adventure. Di sapa hewan ternak, sapi-sapi besar yang sedang leyeh-leyeh di depan rumah warga, menyapa warga sekitar yang sedang sibuk karena baru panen padi. Saya masih harus menyusuri areal persawahan dan melewati pinggiran dari bangunan sekolah SD. Lalu, dilanjutkan menuruni area terjal untuk menuju sungai dan mengikuti ujung aliran air yang merupakan air terjun ini. Eh wait, kok saya jadi curiga jangan-jangan ini air terjun yang sumbernya dari sawah warga yang lebih tinggi. Next, saya akan cek kembali deh (insya Allah kalau sempat hehe).

4. Wisata Grow Go Land (5 / 5)
Belum bisa berkata-kata, masih amaze sama aliran air yang cukup bening dan alami. Saking sukanya, saya mendatangi lokasi ini 2 kali berturut-turut setiap akhir pekan.

5. Kayangan Api/ Api Abadi (5 / 5)
Merupakan fenomena alam dimana gas bumi keluar. Ah ulasannya nanti menyusul ya sekalian saya upload foto dari tempat wisata ini.

6. Taman Kereta Api (4 / 5)
Ini dulu jadi tempat favorit karena ada area gym buat ngelatih otot bisep trisep gratis, ada sepeda statis, dan beberapa alat olahraga lainnya yang cukup colourful sehingga anak-anak pasti suka setiap di ajak kesini.

7. Alun-Alun Bojonegoro (4 / 5)
Ini nih Central Park of Bojonegoro, ya sebelum kita lihat langsung versi aslinya, coba kesini dulu. Bayangin aja Kota Bojonegoro itu punya konsep kota dengan bentuk persegi dan Alun-Alun ini persis ada di tengah. Yang saya lakuin disini biasanya jogging, cari pentol, bubur sama duduk-duduk di tengah taman yang asri banget. Ada bird park juga. Lengkap deh kalau mau ajak keluarga.

Wisata Kuliner

Kolom yang saya tunggu-tunggu dan akan saya update selalu. Refreshing paling sering saya lakukan adalah berwisata ini, wisata kuliner hehe.. Saking akrabnya dengan para penjual, biasanya saya cukup datang dan tanpa berucap mereka sudah hafal menu pesanan saya. Oke langsung mulai aja ya.

1. Sate Ayam Lampu Merah dekat perempatan Jalan Pemuda
2. Soto Pak No
3. Rawon Jalan Pondok Bambu
4. Rujak Cingur Jl. Dr. Soetomo
5. Nasi Pecel Mas Didik
6. Nasi Pecel Mekarsari
7. Borneo – Es Apukat, Angkringan
8. Tahu Tek Lamongan Jalan Kartini (pakai petis)
9. Tahu Telor Mba Shanti
10. Tahu Telor sekitar Jl. Rajawali
11. Nasi Goreng Pak Hendra
12. Nasi Goreng Klenteng – Gombloh
13. Mie Rebus/ Mie Godog Cak Di
14. Mie Ayam Hendra (deket Klenteng)
15. Kerupuk Klenteng
16. Warung Sambel Mira Jaya
17. Warung Mas Ook
18. Hits Chicken
19. Resto Ria
20. Singapore
21. Kedai Mbah Yi
22. Warung Ketan & Gorengan Jl. Lettu Suyono (dekat pertigaan)
23. Warung Kacang Ijo Pak Di
24. Soto Pak Ja’i
25. Warung Pak Indra
26. Bubur Ayam Pak Doyok
27. Warung Ireng
28. Dadar Gulung 91 (online aja)
29. Nasi Kebuli Depan Regazza Jl. Setyobudi
30. Kedai Coco Comel

Tempat Minum Coffee & Non-Coffee Enak

1. Di Rumah (5 / 5)
Jelas ini jadi nomer 1, pertama karena di Bojonegoro agak susah cari tempat ngopi yang menyediakan biji Arabika, sebagian besar menjual biji Robusta. Ditemani playlist instrumental song, Lo-fi atau lagu-lagu terkini untuk menemani momen ngopi dan momen menulis, juga menjadi alasan lain. Dengan biji kopi pilihan dan teknik penyeduhan sesuai preferensi pribadi, jelas Rumah merupakan tempat ngopi terbaik (kok saya berasa lagi pasang iklan copywriting buat ngopi dirumah hehe…). Selain minim budget dan bisa milih stok biji kopi dengan level gilingan sesuai kesukaan saya, saya bisa ngopi sepuasnya dan tanpa ada batasan waktu.

2. Level Up
3. Greenwood / Legi Pait Coffee
4. Copitalist
5. Wedang Kopi
6. Sematta Kopi
7. Sambi
8. Pionir
9. Tempat kopi samping mekarsari – Kopigraphy
10. Jus Apukat enak di Jl. Kartini
11. Apukat Kocok Borneo
12. Jus Jambu Biji di depan BCA
13. Kopi samping Geprek Sa’i – coba dulu (tubruk & kothok)
14. Kopi samping PDAM – coba dulu

Tempat Belanja dan Beli Oleh-Oleh

1. Pasar Induk Bojonegoro
2. KDS
3. Bravo
4. Aroma Jaya Toko Kue dan Bahan
5. Ledre dekat Jembatan Sosrodilogo
6. CV. Ria

Sementara cukup ini dulu ya. Kalau ada yang perlu ditambahkan atau ditanyakan, silakan leave comment di bawah.

Terima kasih.

Semoga bermanfaat.

To The Man I Used to Care The Most

“Hey, how’s life after me?”

“Hancur, putus asa, hilang arah. Kalau itu jawaban yang kamu harapkan, maaf, engga. I have learned my mistakes. Tapi, ditakdirkan ketemu kamu, menghabiskan waktu yang ga sebentar, uda cukup membuka mata. Ternyata, ekspektasi ga akan bisa direalisasi tanpa aksi.”

“Bagus deh, kalo kamu baik-baik aja, karena aku engga.”

“Sabar ya. Pasti bisa.”

Setelah ribuan purnama menghilang, tiba-tiba muncul nanya kabar yang bener aja cuy. Pas ketemu, pake salah tingkah segala. Dari perjalanan yang sudah di tempuh sejauh ini, You’re my favorite person, I’ve ever met!

Ya gimana ga favorit coba, kenal di masa-masa labil menuju stabil (emosinya hehe…). Mulai ngerti salah dan benar di mata orang lain, ga lagi pake sudut pandang diri sendiri. Belajar arti empati dan simpati. Mulai ngerti apa yang namanya proses. Banyak banget deh yang dipelajari dan semuanya bermanfaat. Tapi, satu hal yang kelewat yang bikin hubungannya ga berhasil dulu. Tentang penerimaan.

Demanding/ Controlling
Dalam suatu hubungan, harusnya aku sadar bahwa masing-masing manusia diciptakan dengan keunikan tersendiri. Kadang kita dipertemukan dengan seseorang yang karakternya beda banget sama kita. Kalo karakternya mirip, jadiin temen! Sumpah bakalan awet temenannya.
Memiliki hubungan dengan karakter yang beda banget sama kita, kadang bikin kita tergoda buat mengubah sosok tersebut menjadi sosok yang kita inginkan. This is bad! Kalo uda mulai kaya gitu, take a step back and remember why you fell in love with this person in the first place. If I’m not mistaken, he was for the most part carefree and funny, but sometimes his jokes start to drive me nuts kadang sampe mikir banget karena ga paham. I have to remember that I love that he can make me laugh and that he has such a positive outlook on life.

Self-Centered
This kind of character bener-bener aku banget deh (dulu :p). Mudah-mudahan sekarang uda engga lagi atau paling ngga, uda berkurang. A person who tend to be consumed with their own thoughts and concerns. They are not good at actively listening to others or curious enough to ask conversational questions. They lack empathy and interest in you and tend to make you feel insecure and unimportant. I will not describe this in details hehe… ntar jadi semacam ngebuka luka lama *eaa.. Kok bisa aku segitunya dulu ckckck…

Expecting Perfection
We are all human. We all make mistakes. I was put you to some unrealistically high expectation. This is especially hard for those who hold unrealistically high expectations for themselves, but that’s another topic altogether.
We all have a “perfect” image in our minds of what a partnership is, and usually it is pretty far from reality. Adjust your expectations to be realistic and fair. If you do not take this hard look at yourself, and make this change, you are setting your relationship up for disappointment, and your partner for letting you down when they have done nothing wrong.

Avoiding Confrontation
Fighting is not the way most of us want to spend our time, so it can be tempting to just brush all of the problems under the rug. The flaw with that plan is that the problems collect and multiply. This will ultimately end up in an explosive argument, or a parting of ways with the other person baffled as to what went wrong. Communication is huge in any relationship and should not be avoided.

Ibu Cari yang Gati
Lho? Wait, I don’t even know what ‘Gati’ is. (That time). Mempelajari diri sendiri sama memahami diri sendiri aja belum bener, lalu untuk menjadi ‘Gati’ itu bagaimana ceritanya. Vocab baru denger, apalagi definisinya mana tau. Long story short, mudah-mudahan Ibu uda nemu yang gati ya 🙂

Ah, how I wish I could turn back the time. Bukan karena ingin mengulang, cuman pengen bilang di kesempatan yang dulu, betapa bersyukurnya di kasih periode waktu buat ketemu, kenal dan ga nyangka ultimate goal-nya tercapai, bukannya kenal kamu lebih baik malah aku yang akhirnya mengenali diri sendiri (*mendadak ada backsound Hindia – Mata Air). Terus tiap ketemuan dulu harusnya, aku selalu bilang ‘How I really appreciate kamu yang selalu ada, selalu sabar, mau ngasih tau mana yang bener, mana yang salah’. Bahkan urusan kecil tentang ngabisin makanan, walopun ga enak. Makan jangan disisain, makan makanan yang di suka aja, yang ga suka jangan di pesen. Aku nerima kamu apa adanya, gendut gapapa, makannya banyak, nyemil teros (*eh ini episode yang lain, Sis! Skip~). I just realize that I love those little details. Dulu kemana aja coba sampe ga ngeh kalo hal-hal kecil kaya gini tuh ternyata sangat berarti. Emang bener kata orang, ketika orangnya uda ga ada, kita baru ngerasain manfaatnya. Ga nyangka sweet bangett.. Gemasshh!!

Mudah-mudahan di depan bisa ketemu orang yang really really really care sama kamu (sampe 3x cuy penekanannya wkwkwk.. Jangan cari yang kaya aku. Aku yang dulu, bukanlah yang sekarang, dulu di… *Aduh malah nyanyi), bisa ngertiin your ‘Love Language’. Pokoknya paham apa-apa tentangmu, or at least, bersedia untuk belajar memahami segalanya tentangmu. Ga kaya aku nih, yang sampe di ulang tiga kali pun masih aja ga paham. Masih ga bisa bayangin how you manage your anger when handling me ehehe.. (pasti emosi banget ya?) Sampe akhirnya perlu berpuluh purnama buat nyadar kalo ternyata yang uda dilakuin dulu itu uda bener dan baik banget. Kalo mau banding-bandingin nih, yang kulakuin pun ga ada apa-apanya. TOP deh pokoknya. You are The Best! (Terus kalo Top, The Best gitu kenapa ga lanjut? Ehm nganu, sekarang uda ada versi ‘The Best’ yang berbeda he he he)

Terima kasih, sudah sabar, sudah mau mengerti, mau memahami kekompleksitasanku yang aku sendiri aja ga paham dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu, bersedia mengajarkan bagaimana menghadapi masalah dengan cara yang baik dalam suatu hubungan tanpa adanya penundaan dan pengabaian. Ga perlu nunggu 2 minggu buat nyelesein ‘aku maunya apa’. Ga perlu nunggu ketemuan, yang penting dibicarakan. Bukan diem-dieman, pura-pura lupa. Buset, bocah amad dah. Gitu lho, kok kamu ya bisa tahan. Kamu luar biasa, Mas!!

Communication adalah kunci pagar. Understanding kunci rumahnya. Using the ‘same language’ yang bikin rumahnya adem, ayem, tentrem.

Semangat Pagi! Tetap menyinari jagat raya dan alam semesta ya, Mas!! 🙂

Agar Terhindar dari Konflik Rumah Tangga

📖 Kajian Akhir Pekan

Untuk menghindari konflik dalam rumah tangga, ada beberapa poin.

1⃣ Jangan pernah menuntut pasangan seperti yang kita mau.

Itu sama saja berharap deburan ombak dari tepi ke tengah laut. Lebih baik kita rubah cara kita menyikapi pasangan. Sebab merubah dia seperti yang kita mau, ini kadang menyebabkan konflik.

2⃣ Untuk menuju lebih baik lagi, menghindari konflik ini, sebaiknya setiap kita berperan sesuai dengan peran yang diamanahkan.

Si suami, jadilah suami yang baik sebagai pemimpin. Istri jadilah pendamping yang baik sebagai pendamping. Dan itu kemudian kita ajarkan kepada anak-anak.

Sebab pengalaman-pengalaman yang ada, konflik itu terjadi karena Si-A menuntut Si-B seperti yang dia mau. Sementara dia sendiri tidak memerankan perannya secara baik. Akhirnya, ya; saling balas, saling menyakiti, menindaslah, ini tidaklah baik.

Kalau setiap orang menjalankan perannya, dia akan menjadi produsen kebaikan dan energi itu akan selalu saling memberi dan saling menguatkan satu sama lain.

Kalau saya pribadi punya prinsip begini, saya harus menjadi suami pemimpin masuk surga sekeluarga. Saya harus didik istri saya menjadi pendamping masuk surga sekeluarga. Saya harus didik anak saya menjadi jembatan masuk surga sekeluarga. Atau kalau perlu saya harus inspirasikan mertua agar mereka menjadi kakek dan nenek teladan masuk surga sekeluarga. Baiti jannati, Sehingga suasana itu mulai terbangun dan cara kita memandang pasangan kemudian juga mulai berubah.

📖 Inspirasi Hadits:

وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya.” (HR.Muslim).

KH. Bachtiar Nasir
_____________________
UBN Digital Academy
Admin : 0811 872 2017
Instagram : @ubndigitalacademy
Ikuti juga Channel Telegram kami utk dapatkan materi harian Tadabbur Qur’an Tematik : https://t.me/bachtiarnasir_official

“Tadabbur Hidayah Qur’an: Cerahkan Pikiran, Cahayakan Hati untuk Amal yang Terbaik”

Back Home to (Leave) You

“Di, makasi uda bertahan sampe hari ini dan buat semua-muanya.”

Gw mencoba memulai obrolan setelah keheningan menyelimuti kami selama menikmati makanan Jepang favorit kami. Gw sengaja milih menu kesukaan kami, kesukaan dia sih sebenernya, tapi gara-gara dikenalin sama dia, gw jadi doyan juga. Karena gw rasa hari ini bakalan jadi pertemuan terakhir, gw cuman pengen nyenengin dia. Hampir setahun sejak pertemuan kami yang terakhir, ga banyak yang berubah di dia. Tetap sabar, meski gw nyasar keluar di Terminal Kedatangan Internasional. Lah kan gw penerbangan domestik yak. Entahlah gimana ceritanya.

“Ngomong apaan sih lo. Ini nih tahu mirip kaya pipi lo, bulet banget hahaaa…”

Sambil mindahin tahu itu ke piring gw.

“Ah sial ini nih yang bikin gw ngerasa dia beda dari awal. Dan gw ngerasain perasaan ini lagi.”

Gw cuman bisa ngomong dalam hati. Gw uda ambil keputusan dan ga boleh goyah. Kudu kuat!

“Di, kayanya gw terjebak rasa nyaman deh.”

Gw mencoba memulai percakapan ke arah yang lebih serius.

“Rasa nyaman ame siape? Siapa lagi nih yang lagi deketin? Temen kantor lo lagi? Temen sekolah? Apa yang langsung ngajak nikah itu? Oh gw tau, pasti sama cowok yang nyokap lo salah manggil nama gw itu kan. Astaga, masih aja. Tentuin sikap, Na!”

Adi nih kebiasaan suka ngomel panjang, padahal gw aja belom mulai jelasin detailnya. Tapi gw selalu ketawa sama omelannya. Sampe dia bilang, ini gw lagi marah dan lo malah ketawa. Gw juga ga ngerti kenapa, abis kalo dia ngomel banyak benernya dan gw bingung musti ngerespon gimana, jadi cuman bisa ketawa.

“Lo masih inget ga obrolan kita siang pas makan di resto yang porsinya gede banget itu. Tentang tolak ukur pasangan kita masing-masing?”

Gw mulai lagi pake nada serius.

Read More »

Kenapa Harus Kurus & How To

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.


I wish berat badan juga bisa menggunakan quote tersebut, “Menjadi berisi itu pasti, menjadi ideal itu pilihan.” Apa daya, fakta pahitnya adalah menjadi kurus belum pasti, menjadi berisi adalah sebuah kepastian. Quote ini tidak berlaku untuk semua orang, karena setiap orang dianugerahi bentuk tubuh dan metabolisme yang berbeda-beda. Khusus untuk saya, makan nasi sehari tiga kali dan tanpa olahraga sama sekali sudah dapat dipastikan akan meningkatkan berat badan sekitar 2-3 kilogram dalam seminggu. Jika di tengok mundur sekitar 2 atau 3 tahun kebelakang, saya tidak banyak melakukan aktivitas fisik seperti olahraga rutin, hanya aktivitas bekerja di belakang layar, sedikit pekerjaan rumah tangga, dan olahraga jempol untuk sekedar scrolling timeline di media sosial. This kind of lifestyle biasa di sebut dengan istilah Sedentary Lifestyle atau Pola Hidup Sedentari. Sebuah pola hidup yang tidak banyak melakukan aktifitas fisik atau tidak banyak melakukan gerakan. Istilah ini makin populer ketika dikaitkan dengan masalah kesehatan. Hal ini disebabkan pola hidup sedentari dianggap sebagai faktor resiko terhadap berbagai masalah kesehatan populer seperti penyakit jantung dan stroke. Pola hidup sedentari juga merupakan faktor resiko terhadap berbagai masalah kelainan metabolisme, seperti: kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, resistensi insulin, obesitas, dan lain sebagainya.

Nah bicara obesitas, terakhir kali saya menghitung BMI (Body Mass Index) bisa di coba melalui link ini, saya berada di kisaran Overweight. Dampak dari overweight yang mulai saya rasakan, seperti mudah lelah, mudah sakit semacam flu, batuk, pilek dan kawan-kawannya. Tidak sanggup berjalan jauh ataupun beraktivitas banyak. Namun hal ini berbanding terbalik dengan hobi makan saya yang semakin tidak terkontrol dan segala macam makanan yang saya lahap tanpa berpikir dua kali apakah makanan tersebut bermanfaat dan dibutuhkan oleh tubuh saya.

Hingga tibalah suatu titik, dimana orang tua saya mendadak bertanya, “Mbak kok makin chubby.” Teman saya juga mengiyakan dengan memberikan kode sebaiknya saya tidak ‘melebar’ lagi dan puncaknya ketika saya tidak dapat menikmati hobi jalan-jalan, trekking, susur sungai, naik turun bukit karena napas lebih cepat habis. Waktu banyak terbuang karena lebih banyak istirahat di banding menuju destinasi wisata dan kemudian menikmatinya. Dari sekian banyak alasan yang telah terkumpul, semakin memantapkan hati dan niat untuk mengurangi berat badan saya atau bahasa kerennya ‘Diet’. Padahal pengertian menurut para ahli, bukanlah seperti itu. Menurut Mangoenprasodjo, 2005, diet yang baik adalah diet yang menekankan pada perubahan dalam jenis makanan, jumlah dan seberapa sering seseorang makan dan ditambah dengan program. Menurut Budiyanto, 2001, agar tujuan diet dapat tercapai dalam diet jumlah asupan dan frekuensi makan juga harus dikendalikan. Sedangkan menurut Luxboy, diet normal atau diet yang seimbang terdiri dari semua elemen makanan yang diperlukan agar tubuh tetap sehat.

Sementara menurut Hartono, 2000, pengertian diet adalah pengaturan jenis dan jumlah makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan serta status nutrisi dan membantu menyembuhkan penyakit. Setiap diet termasuk makanan, tetapi tidak semua makanan masuk dalam kategori diet. Dalam diet jenis dan banyaknya makanan ditentukan dan dikendalikan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam upaya mengatur asupan nutrisi diet dibagi menjadi tiga, yaitu: menurunkan berat badan, meningkatkan berat badan dan pantangan. Pantangan terhadap makanan tertentu misalnya bagi penderita diabetes (rendah karbohidrat dan gula).

Read More »

Surat dari Sang Penggemar

Sabtu, 8 Agustus 2020.

       Sore itu, aku sengaja meluangkan waktu untuk membagikan undangan pernikahanku yang akan dilaksanakan dalam 2 minggu ke depan. Terbang ke Jakarta di akhir pekan dan membagikan satu per satu undangan untuk sahabat, kerabat dan teman dekat yang berdomisili di Jakarta. Dari sekitar 20 undangan yang telah disiapkan, tersisa satu undangan yang sengaja diberikan terakhir untuk Dito. Ya, Dito. Seorang laki-laki yang bukan termasuk sahabat, kerabat ataupun teman dekat. Ia kuanggap sebagai kakak. Kakak laki-laki yang didambakan, yang diidamkan, sosok yang melindungi dengan sepenuh hati. Mengingat sebagai anak pertama, aku harus menjadi teladan bagi adik, memberikan contoh terbaik bagaimana menjalani hidup, menanggulangi badai dan terpaan ombak di setiap perjalanan. Mas Dito, begitu aku memanggilnya. Sosoknya begitu karismatik, tatapan matanya yang teduh serta senyumnya yang menenangkan cukup membuatku merasa nyaman ketika berada di sekitarnya. Sepanjang hari bersamanya hanya akan terasa seperti 5 hingga 10 menit saja. Pertemuan dengannya selama apapun itu pasti akan terasa singkat. Entah karena kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku atau karena bunga-bunga mendadak bermekaran ketika aku bersamanya. Perjalanan menembus kemacetan Ibukota untuk menuju bandara terasa singkat, karena tatapan matanya yang seolah tak bisa lepas padaku. Senyumnya yang terkembang sempurna serta cara tertawanya yang menyenangkan siapapun pendengarnya, benar-benar tidak mudah dilupakan.

       Mas Dito benar-benar sosok yang out of reach lah, ketika ku coba mengingat masa-masa awal perkenalan kami. Seorang teman kami tiba-tiba berkata padaku, “Yang itu namanya Dito. Dia lagi proses sama cewek Sunda, udahlah kamu bukan tipenya.”

       Menanggapi kalimat tersebut, aku menghilangkan segala kemungkinan bahkan hanya untuk tahu siapa nama sebenarnya. Hingga akhirnya kami dipertemukan pada suatu komunitas Pecinta Alam, dimana bukannya naksir Dito, aku malah kagum dengan pesona Ketua kami. Tapi takdir tidak mempertemukanku dengan Pak Ketua, meski kami telah berusaha saat itu. Kembali dipertemukan dengan Mas Dito pada suatu sore terkait project IT yang akan kami kerjakan bersama untuk keperluan komunitas tersebut, tetap saja tidak membuatku tertarik padanya. Hingga pada akhirnya, aku meninggalkan Jakarta beberapa tahun silam. Mas Dito orang pertama yang mencariku ketika Ia baru sadar bahwa beberapa minggu ke belakang, aku sudah tidak ada lagi disekitarnya.

Jakarta, Oktober 2019.

“Oh gitu, tapi kenapa Mas dulu baru datang saat aku sudah pergi?”

       Ya, Mas Dito adalah salah satu dari beberapa orang yang mencariku setelah kepindahanku dari Jakarta. Entah karena aku punya hutang atau cicilan yang belum terbayar hehe..kriuk (baca: garing). Ia yang datang pertama untuk mencariku melalui teman baik kami.

“Aku ga tau, kalau ternyata saat itu kamu sudah meninggalkan Jakarta. Aku ga bisa ninggalin Jakarta, Ibuku disini, pekerjaanku disini, hobi dan segala aktivitas yang aku suka ada disini. Aku ingin melengkapi hidupku dengan keberadaanmu saat itu. Ku kira kamu masih di Jakarta, tapi ternyata sudah jauh disana.”

“Ku rasa begitupun denganku, Mas. Aku sudah nyaman dengan tempatku berada saat ini. Aku belum terpikir untuk kembali ke Jakarta dengan segala kerumitan dan kesibukan yang pernah aku alami sebelumnya.”

“Kamu suka dengan pekerjaanmu? Suka dengan tempat tinggalmu sekarang? Kenapa?”

“Iya, aku suka. Aku suka dengan pekerjaanku saat ini, sudah nyaman untuk menjalaninya. Tempat tinggalku sekarang lebih mudah untuk menjangkau kedua orang tuaku. Aku bisa pulang sewaktu-waktu jika dibutuhkan.”

“Kita sepertinya masih di jalan masing-masing ya. Tidak ada yang berubah dari harapanku di saat awal kita bertemu. Kamu masih dengan kesibukanmu dan aku juga. Ku rasa kita masih belum menemukan titik temu. Kita jalani aja hidup kita masing-masing.”

       Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta sore itu mendadak menjadi sangat berat, kemacetan Jakarta terasa semakin menjadi-jadi ketika di tengah kesedihan itu diputarlah lagu Two Ghosts yang dinyanyikan oleh Harry Styles. Liriknya bercerita bahwa bagaimana dua orang yang dulu begitu dekat, kemudian saat bertemu kembali ternyata terasa begitu jauh. Time flies and people change. Perjalanan pulang kali itu benar-benar membuat dada terasa sesak dan bernafas begitu berat seolah terkena asma, tanpa ada riwayat asma.

——

       Waktu tetap berlalu dan aku berusaha melupakannya, kurasa Ia juga melupakanku. Hingga tiba suatu masa dimana kedua orang tuaku berencanana melakukan perjalanan ibadah melalui biro perjalanan di Jakarta. Dari berbagai opsi teman yang bisa dipercaya dan bersedia meluangkan waktu untuk membantu segala persiapan administrasi, hanya Mas Dito yang segera mengiyakan tanpa penolakan sedikit pun. Segala persiapan keberangkatan hingga kedatangan sama sekali tidak ada kendala. Hingga pada saat kepulangan Ayah dan Ibu tiba, Mas Dito datang bersama Ibunya ke bandara. Dan Ia menyampaikan tujuan utama kedatangannya bersama Ibunya. Namun kondisi saat itu sudah berbeda, aku tidak dalam kondisi bisa memilih. Keputusan telah di buat sebelumnya. Dan lagi-lagi kepulangan setelah pertemuan dengan Mas Dito, berakhir dengan kondisi sesak napas, seakan ketersediaan oksigen di bumi ini tiba-tiba menipis.

———

       Mungkin bukan waktu yang harus disalahkan, kenapa aku tidak bertemu dia sebelum dia. Kenapa bukan Mas Dito yang datang pertama, kenapa harus dia. Mungkin aku yang tidak sabar menunggu, ketika mas Dito merasa dirinya belum siap. Namun ketika Mas Dito siap, kenapa keputusan itu sudah di buat. Aku jauh lebih mengenal Mas Dito jika dibandingkan dengan Ia. Aku tahu bagaimana lingkungan kerja, lingkungan pertemanan, hobi dan kesukaannya serta bagaimana wawasan ilmu agamanya. Yang jika aku tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan mengenai persoalan sehari-hari terkait wawasan agama, Mas Dito adalah ‘Google’ andalanku. Namun, keputusan telah di buat, dan laki-laki yang akan menjadi imamku, bukanlah Mas Dito. Maka, sebaiknya aku segera berhenti untuk membandingkan.

       Saat ini, aku merasa perasaanku padanya (Ia yang telah ku pilih) tidak akan pernah seperti yang kurasakan padamu, Mas. Hal yang kualami ini membuatku semakin yakin atas kalam-Nya, “..boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216).

       Mungkin Mas Dito merupakan sosok yang aku inginkan, yang aku impikan, yang aku harapkan untuk menemani hari-hari ke depan. Sosok untuk berbagi suka dan duka, sosok yang membuatku menurunkan idealisme yang terlalu tinggi hingga lupa bahwa kita ternyata hanya manusia biasa yang penuh kekurangan. Sosok yang tidak banyak menuntut perubahan, yang menerima segala kekurangan dan bersedia membersamai dalam kondisi apapun. Maaf jika beberapa tahun silam kedatanganmu dengan niat yang baik itu, tidak mendapat respon yang tepat hanya karena logika matematika yang ternyata meremehkan kuasa Sang Pencipta. Terima kasih karena tetap berbuat baik tanpa henti padaku, meski caraku memperlakukanmu dulu tidak baik.

       Maafkan jika aku telah memilih orang yang aku tau dia mencintaiku, yang mengutarakan niat baiknya dan mendatangi dengan cara-cara baik, yang menerimaku sepaket dengan kelebihan dan kekuranganku, serta kekonyolanku yang nanti kalau dia tanya ibukota-ibukota di Kalimantan, aku sudah bisa jawab. Kota-kota di Sumatera juga, biar ga ketuker gara-gara Selai Kaya. Ia yang memilih untuk menghentikan perjalanannya sesaat untuk mengajakku bergabung pada itinerary yang telah Ia susun. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan kembali. Mas Dito jika surat ini telah sampai kepadamu, ku harap masing-masing kita tidak menyesali keputusan-keputusan yang telah kita ambil di masa lalu. Semoga kebaikan-kebaikan yang telah kamu berikan selama mengenalku, akan dilipatgandakan dan kembali padamu.

Dari seorang pengagum yang beberapa hari lagi akan menghapus segala kenangan dan ingatan tentangmu. Mohon doa restu untuk keputusan terbaik yang telah aku ambil tanpa ada kamu di dalamnya. Terima kasih untuk segalanya, Mas.

 

Jakarta,
Minggu, 9 Agustus 2020 @ 9:00 PM
Bandara Soekarno-Hatta Terminal Keberangkatan 2F.
– Tempat dimana harapan itu tumbuh dan mendadak lenyap tak berbekas.