Inspirasi tema tulisan kali ini didapat ketika berada di dalam sebuah angkot dari arah kantor menuju Thamrin City. Ada alasan kenapa saya tidak langsung pulang ke kos melainkan pergi ke tempat lain, apalagi hari Jumat yang identik dengan agenda panjang hingga malam menjelang. Alasan mengapa saya pergi ke Thamrin City akan dibahas di lain waktu. Berikut sedikit kisah yang tiba-tiba terlintas sore itu.
Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.
-Buya Hamka-
Aku berdiri di baris depan sejajar dengan teman-temanku lainnya. Mereka benar-benar mirip denganku. Penampilan, tinggi, berat serta isi kami pun sama. Yang membedakan kami hanya satu, label dagang yang tertera di packaging kami. “Kalau hidup sekedar hidup apa bedaku dengannya?”, pertanyaanku pada diri sendiri tiba-tiba membuyarkan lamunanku tentang buah leci dalam kaleng ini. Setelah membeli sekaleng leci dengan merk favoritku, aku bersiap menyampurnya dengan sirup jeruk yang tersedia di kulkas kamarku. Untuk kemudian ku bagi bersama teman-teman kos yang berada di sekitar kamarku.
Saat menuang sekaleng buah leci, kalaupun ada sekitar 20 hingga 30 buah leci, lantas apa beda kita dengan 20 hingga 30 manusia yang ada di sekitar kita. Tidak perlu mencari orang-orang yang jauh disana, bandingkan saja dirimu dengan 3 orang yang sekarang sedang berada didekatmu. Apa bedamu dengan dia? Jika kita amati sejenak, ada buah leci yang masih utuh bentuknya bulat sempurna, ada yang sedikit terbuka dan bahkan bentuknya tidak utuh sebutir leci. Tanyakan kembali pada dirimu, apa kamu sudah menjadi manusia seutuhnya atau belum. Sulit memang menentukan apa kita sudah menjadi seutuhnya manusia yang diciptakan di dunia tidak hanya untuk dirinya sendiri.
***
Tak pernah terpikirkan olehku menjadi sebutir leci, pun berada di dalam kaleng ini. Yang aku tau sekarang, aku berada di baris terdepan karena aku dapat merasakan hembusan pendingin udara yang lebih kuat dari biasanya. Oh iya perkenalkan, aku sebutir leci yang sudah berada di dalam kaleng sekitar sebulan. Tapi aku belum lama berada di swalayan ini. Seingatku, beberapa hari yang lalu aku merasakan goncangan hebat di perjalanan panjang sehari semalam. Aku tak tau perjalananku dari mana dan menuju kemana. Gosip yang ku dengar biasanya setelah dari pabrik, kami akan berjumpa dengan manusia, tujuan akhir kami. Tujuan akhir kami yang sementara. Karena ku rasa tujuan akhir kami, para leci ini, adalah kembali ke Pencipta kami. Yang menciptakan kami dari tidak ada menjadi ada. Kami kumpulan ratusan bahkan ribuan kaleng leci ini memiliki kualitas dan kuantitas yang sama. Kami sudah menempuh berbagai tahap uji klinis, pengecekan kadar bakteri hingga pemberian logo halal pada kaleng kami. Perjalanan panjang ini membuatku senyap dalam lamunan ketika membayangkan masa lalu kami. Kami semua yang ada disini tidak pernah menyangka bagaimana dulu kami berada di pohon tempat kami tumbuh dewasa untuk kemudian di panen dan di produksi massal berupa kaleng. Kemudian rangkaian proses distribusi ini, yang aku masih tidak tau kemana kami kan menuju.
***
Kita bukan sebutir leci yang diciptakan Tuhan untuk akhirnya kita makan. Leci-leci tersebut tidak akan tahu kapan masa penyerbukan dan pembuahan yang dapat menjadikan mereka sekumpulan buah leci yang terasa nikmat di lidah. Kemudian di panen massal untuk dimasukkan ke dalam pabrik dan dimasukkan ke dalam kaleng. Lalu menjadi konsumsi manusia. Manusia tetaplah manusia. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Jika hidup itu dianalogikan kisah sebuah leci di dalam kaleng, yang mengalami perjalanan sesaat untuk akhirnya dimakan oleh manusia, mungkin cukup tepat. Kita tahu dan yakin bahwa hidup kita di dunia ini tidaklah lama, hanya sebentar. Lahir kemudian menjadi bayi sebentar, menjadi remaja sebentar, tumbuh dewasa sebentar, kemudian menua juga sebentar. Untuk hal yang sebentar itu mengapa tidak kita manfaatkan waktu sebaik mungkin. Hidup ini hanyalah persinggahan saja. Sama seperti buah-buah leci yang hanya singgah sebentar di pohon mereka untuk membesar, lalu singgah di dalam karung setelah di panen. Kemudian singgah di pabrik untuk diolah dan diproduksi dalam bentuk kaleng. Singgah sesaat di dalam alat transportasi yang mengantar mereka mendekati manusia. Tiba di swalayan pun untuk singgah sejenak sembari menanti manusia mengambil dan memakannya. Ku rasa hasil akhir sebagai manusia, paling tidak kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Seperti sebutir leci yang bermanfaat bagi seorang manusia.
Sebagai seorang manusia, kita dilihat sebagai satu kesatuan. Tidak hanya tampilan luar yang memikat, tetapi juga kepribadian yang tak terlihat. Manusia ini lazimnya suka dengan apa-apa yang terlihat sepintas, sama ketika kita melihat sekaleng buah leci yang penyok, apa masih akan dibeli? Tidak bukan. Seperti yang kita ketahui, ketika bentuk kaleng penyimpanan tidak utuh seperti sebelumnya, maka kita tidak akan membelinya dikarenakan penyebaran bakteri yang mungkin dapat terjadi. Sesuatu yang sudah diberi bahan pengawet sebaiknya kita beli dalam kondisi baik. Dengan ada perubahan kondisi fisik luar dikhawatirkan terdapat perubahan bentuk ataupun rasa didalamnya. Tapi manusia tidak, Tuhan kita selalu memberikan kesempatan kedua pada masing-masing kita. Sungguh betapa egois, ketika kita sesama manusia mengecam satu sama lain tidak akan memberikan kesempatan kedua pada manusia lainnya. Kau itu makhluk ciptaan-Nya tapi bertindak melebihi kekuasaan Sang Pencipta. Manusia itu pada dasarnya lemah dan bersifat sosialis. Kita tidak akan bisa hidup secara individu tanpa memperdulikan orang lain. Kalau kau merasa sanggup untuk menjalani hidupmu sendiri, cobalah tinggal di hutan. Jika tanpa kuasa Tuhanmu, maka kau takkan bertahan meski satu hari saja.
***
Tiba-tiba aku membayangkan sesuatu, bagaimana bila aku tertata jauh di belakang, bagaimana cara manusia ini akan memilihku dan mengambilku. Tapi tetap aku akan berprasangka baik pada Tuhanku yang mengizinkanku merasakan indahnya dunia serta menjamin rezekiku. Bagaimana cara aku akan diambil manusia, nanti akan diberikan cara yang terbaik. Proses perjalanan panjangku ini ternyata hanya sementara saja bahkan terhitung singkat. Yang dapat kuingat, sepertinya baru kemarin aku tiba di dunia ini, kemudian aku membesar, di panen lantas dibawa ke sebuah tempat besar dimana aku dikelupas dan diperhatikan secara seksama, apakah aku sempurna dan tidak cacat. Kemudian aku masuk ke sebuah wadah besar bersama dengan teman-teman sejenisku yang aku sangat yakin kami tidak pernah tumbuh bersama. Aku tak pernah melihat mereka di tempat aku dibesarkan. Aku tak tau mereka dibesarkan dimana, tapi yang aku yakin mereka sudah pasrah dengan takdir Tuhan kemana kami akan dibawa.
Aku tak ingat detail setiap hal yang ku lalui tapi aku yakin Tuhanku Maha Melihat, Ia pasti melihat apa yang kurasakan apa yang kujalani dan apa saja yang kukeluhkan di hati ini. Dan tiba-tiba saja sebuah tangan halus menggenggam dengan lembut kaleng ini. Aku tau ia pasti seorang wanita, aku yakin itu. Seiring waktu berjalan dan proses yang ku lalui semasa di pabrik dulu, aku dapat membedakan apakah yang menggenggam kaleng kami seorang pria, wanita ataupun sebuah mesin. Ia tak ragu saat mengambilku dan meletakkan kami, aku dan teman-temanku yang berada di dalam kaleng, secara perlahan ke dalam keranjang belanjanya. Bersama teman-teman sekaleng, kami mengucap syukur pada Tuhan kami, karena akhirnya kami bermanfaat bagi orang lain. Kami tetap bersyukur walaupun kami semua tau, masa perjalanan kami tinggal sedikit. Tak apa asal manusia yang akan menjadikan kami sebagai konsumsinya ini akan menjadi sehat. Kami tenang dan segera mempersiapkan diri walaupun memang agak sedikit ganjil, bagaimana dapat merasakan ketenangan ketika tahu waktu kami sudah tidak banyak.
Ketika berada di dalam rak besar, tinggi serta berwarna putih dulu semasa kami berada di swalayan, kami mendengar banyak nasihat dari radio yang diputar di swalayan tersebut. Yang kami dengar ini cukup membuat kami tenang, ternyata tidak hanya kami yang memiliki expired date (tanggal kadaularsa), manusia juga. Manusia juga memiliki masa berlaku yang telah ditentukan oleh Tuhannya hingga tiba masa expired mereka. Kisah yang kami dengar adalah ketika seorang Bapak yang sedang makan kemudian diberi kabar oleh sahabatnya bahwa anaknya telah meninggal karena ditusuk orang. Bapak tersebut berucap innalillahi wa innailaihi roji’un dan melanjutkan makan. Sang sahabat itupun kaget karena Bapak tersebut hanya memberikan reaksi seperti itu. Maka diulang hingga tiga kali pun, masih berucap sama dan menyelesaikan makan. Sahabat tersebut bertanya, “Wahai temanku, anakmu telah meninggal dan ditusuk orang. Sungguh aku membayangkan kau akan membanting meja dan menghancurkan piring makanmu. Aku tidak mengerti.” Bapak tersebut menyelesaikan makannya, kemudian menjawab “Sahabatku ketahuilah memang anakku pasti akan meninggal dan hari ini ia meninggal dengan cara ditusuk orang karena memang begitu takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan kita. Mengapa aku tetap melanjutkan makan, sungguh aku tidak termasuk dalam golongan yang membuang-buang makanan (mubadzir).” Itulah mengapa kami lega, kalian manusia sebaiknya paham mengenai expired date. Karena kalian juga mempunyai expired date yang kalian tidak tahu kapan detailnya tanggal berapa dan di jam berapa. Beda dengan kami yang sudah tertulis diatas kaleng kami.
***
Beranjak dari lorong sirup dan buah-buahan kaleng, aku langsung berjalan menuju kasir. Karena tujuanku malam ini berada di swalayan ini hanyalah untuk buah kaleng ini. Setelah membayar, aku langsung kembali pulang ke kos dengan berjalan kaki. Aku sengaja memilih berbelanja di swalayan ini karena memang dekat dengan tempat tinggalku. Sesampainya di kos, melihat teman-teman kos sedang sibuk di kamar masing-masing, aku segera menyiapkan gelas besar untuk menuangkan buah leci dalam kaleng serta sirup jeruk dan air es yang memang selalu kusiapkan di kulkas. Ya, aku tipikal orang yang suka menyediakan stok barang, makanan atau minuman tertentu. Karena aku yakin, kalau aku tidak memerlukannya pasti ada orang lain yang akan memerlukannya. Jadi, syukurlah selama ini entah barang, makanan atau minuman yang aku stok tidak ada yang terbuang sia-sia. Selesai mengaduk dan sedikit mencicipi sirup buah yang ku buat, aku memanggil teman-teman kos di sekitar kamarku atau memanggil teman di lantai atas yang ku kenal saja. Karena aku juga tidak ingin dianggap sok dekat dengan mereka para pendatang baru di kos ini. Kami berkumpul dan bertukar cerita sembari menikmati es sirup jeruk yang ditambah leci. Tidak lama memang, namun momen ini cukup untuk menyatukan kami yang sesama perantau dari kota masing-masing. Mensyukuri nikmat hijrah ini yang dapat kami jalani atas izin Tuhan kami karena tidak semua orang dapat menikmatinya. Ketika minumannya habis, kami pun mengakhiri sesi malam itu dan kembali ke kamar masing-masing. Selesai membersihkan kamar dan merebahkan diri di atas kasur, hanya satu kalimat yang terpikirkan di benak saya “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” [55:13]
***
Jika ditarik mundur ke belakang, sebelum proses produksi dimulai, sebelum aku di panen, sebelum aku datang ke dunia. Apalah aku ini, hanyalah sebutir buah kelengkeng yang diizinkan Tuhanku untuk melihat indahnya dunia. Dunia yang ternyata hanya sementara. Dunia yang merupakan proses antara aku menjadi sebutir buah, lalu dipanen, dikupas, masuk ke sebuah pabrik besar untuk diberikan berbagai macam campuran yang aku tak tau manfaatnya tapi tetap harus kujalani. Seperti pemanis dan perasa buatan, agar aku cocok di lidah manusia yang akan memakanku nanti. Kemudian ditambahkan bahan kimia yang tak pernah kukenal sebelumnya, katanya ini diperlukan agar aku masih dapat dimakan oleh manusia satu atau dua tahun ke depan. Air juga ditambahkan padaku, sepertinya air ini dapat membantu bentuk tubuhku utuh jika aku tidak sengaja bersentuhan dengan teman-temanku di dalam kaleng pada saat distribusi nanti. Tapi ada yang membuatku merasa aman dan tenang, karena aku tidak sendiri di dalam kaleng, aku akan bersama teman-temanku. Teman yang saling mendukung dan saling mengingatkan asal muasal kita dan kemana tujuan akhir kita.
Saya ingat mengapa saya terinspirasi untuk menuliskan cerita ini, dikarenakan sembari menunggu angkot tersebut penuh dari arah Pasar Bendungan Hilir selain saya dan sopir angkot, ada dua orang penumpang lain yang sedang mengobrol dan saya tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Seorang bapak dan seorang pemuda, mungkin usia mereka sekitar 30an dan 20an. Sang Bapak menceramahi anak tersebut yang sepertinya berprofesi sebagai Joki 3 in 1 di area Sudirman dan sekitarnya. Bapak tersebut berkata, “Kamu masih muda, menjadi joki bukanlah pekerjaan tetap. Nanti ketika kamu menemukan seorang wanita yang akan kamu habiskan hidup dengannya, kamu pasti mencari pekerjaan yang lebih baik. Tidak hanya untuk menghidupinya, tapi juga untuk anak-anakmu kelak.” Sang anak hanya memperhatikan Bapak tersebut dan menyimak dengan baik. Saya tidak tahu apa hubungan mereka berdua, entah kerabat, entah saudara. Tapi saya tidak tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut. Yang saya tahu, mereka berdua sama-sama turun di persimpangan rel kereta api di Stasiun Karet. Dan saya meneruskan perjalanan menuju Thamrin City.
Semoga bermanfaat.