Sebuah Catatan tentang Kemelekatan

Untukmu yang pernah diimpikan, tidak hanya olehku namun sebagian besar manusia di bumi. Bagaimana setiap orang bermimpi memilikimu, namun tidak diberikan kesempatan. Beberapa kenangan tiba-tiba melesat bagaimana orang-orang itu mengejarmu dengan sedemikian rupa namun tak kau hiraukan. Sedangkan aku, yang tak sengaja bertemu denganmu, ternyata menarik minatmu. Engkau tak hanya melihatku sekilas, namun benar-benar mempedulikanku hingga kita bertahan sekian tahun bersama. Engkau yang kukira akan membersamaiku di sepanjang perjalanan, ternyata tidak. Kukira perkataan orang-orang bahwa ‘tidak ada yang abadi’ itu hanya candaan semata. Namun ternyata, aku mengalaminya denganmu

if only I could ask, please stay. But then, you’re the one who don’t want to stay. And every thing just change suddenly.

Untukmu yang pernah dicita-citakan,

Untukmu yang membuat segalanya terasa berbeda,

Satu dekade telah berlalu, tidak hanya pola pikirku yang berubah, mental dan karakter pun telah terbentuk dengan baik

Sebuah catatan perpisahan untuk teman seperjalanan. Terima kasih atas waktu yang telah diberikan, berbagai kesempatan yang dilalui bersama, mendewasa bersama. Bahwa perubahan adalah sebuah kepastian. Bagaimana seorang manusia yang tidak pernah meninggalkan zona nyamannya dan ternyata bukannya Ia keluar dari zona nyaman tersebut tetapi zona nyamannya melebar. Terima kasih telah membuatku bertumbuh.

To Live is to Survive

Mengamati tren akhir-akhir ini yang bersliweran di sosial media, di lingkungan pekerjaan, pertemanan ataupun di tempat umum membuat saya ingin merangkum apa saja sih yang harus dipersiapkan untuk menjalani hidup dengan baik.

1. Survival

Kemampuan untuk bertahan hidup, kemampuan untuk mempertahankan diri di situasi sulit. Hidup adalah tentang bertahan. Bagaimana kita menjalani kehidupan dari pertemuan kedua orang tua kita, lahir ke dunia, hingga meninggalkan duni isinya adalah tentang bertahan. Tentang berjuang. Pada awalnya kita akan di tuntun, dilindungi, di bimbing dengan baik oleh kedua orang tua kita. Namun, saat kita telah dewasa, adalah tanggung jawab kita sendiri bagaimana untuk tetap bertahan di berbagai kondisi dan ujian-ujian kehidupan.

Kemampuan untuk memasak, mengatur rumah, membela diri dengan menguasai dasar-dasar bela diri menurut saya sudah harus disiapkan semenjak dini. Bahkan pada saat kita bayi saja sudah di latih untuk mencicipi berbagai jenis makanan dan minuman seiring dengan peningkatan usia.

2. Komunikasi

Ketika anda tidak dapat berkomunikasi dengan baik, saya yakin lawan bicara tidak akan langsung bisa menerima/ memahami isi pesan yang disampaikan. Komunikasi adalah sesuatu yang di latih, sesuatu yang tidak bisa didapatkan begitu saja. Kenapa komunikasi perlu dijadikan skill yang harus dimiliki? Bukannya kita sudah jago bicara, bawaan dari lahir.

Tidak semua orang terlahir untuk berkomunikasi dengan baik, jelas, terarah dan to the point. Banyak orang yang tidak melatih kemampuan bicaranya, sehingga arah pembicaraannya kemana-mana dan tidak jelas poin-poin yang ingin disampaikan.

3. Finansial

Jujur, saya juga sedang mempelajari mengenai ini. Bagaimana di masa depan agar keturunan saya tidak mengalami apa yang saya alami, apa yang saya rasakan akibat kurangnya kemampuan mengenai literasi finansial. Bagaimana dasar-dasar mengatur keuangan, mengatur pos-pos keuangan, membelanjakan uang dan menyimpan uang dengan baik sesuai resiko finansial yang kita sanggupi.

4. Food Literacy

Belakangan cukup sedih ketika mendengar di lingkungan sekitar, ada anak-anak yang kekurangan gizi. Bukan karena orang tuanya yang tidak mampu, mereka mampu membelikan makanan apapun untuk anaknya. Namun, mereka tidak mau improve mengenai literasi makanan. Bagaimana makanan yang bernutrisi dapat mengakibatkan optimalisasi terhadap tumbuh kembang anak. (Wow bahasa yang saya tulis serasa menuliskan karya ilmiah.)

Mereka melakukan pembiaran terhadap anak-anak mereka, yang penting anak makan dengan lahap di menu tertentu, maka orang tua cenderung memberikan makanan yang itu-itu saja. Termasuk, mereka tidak peduli dari mana sumber penghasilan mereka untuk membelanjakan makanan tersebut. Segala sesuatu yang halal dan baik ketika masuk ke tubuh anak dan mengalir dalam darah mereka, akan terlihat pada kualitas anak. Cara mereka bersikap, mereka berkomunikasi, menghargai orang lain dan banyak lainnya.

5. Legal

“Ngapain sih perlu belajar tentang legal? Hidup gue, cara gue.”

Hei, anda bukan satu-satunya orang yang tinggal di dunia ini. Memiliki kemampuan dasar mengenai aspek legal, setidaknya anda dapat memahami batasan-batasan apa yang boleh dan tidak boleh. Mana-mana saja yang di atur oleh hukum, negara bahkan agama.

Kalau tidak mau mempelajari semuanya, paling tidak pelajari pasal-pasal mengenai penjualan tanah/ bangunan, pencemaran nama baik, dan tenaga kerja. Pelajari dasar-dasar legal yang terkait dengan hidup anda. Sehingga, saat anda melakukan sesuatu, semuanya sudah dipikirkan dan disiapkan dengan baik.

6. Value/ Beliefs/ Agama

Menurut saya ini adalah basic skill yang terpenting, perlu di ingat bahwa keyakinan tiap orang berbeda, namun pasti memiliki kesamaan.

– Bahwa apa yang kamu lakukan akan kembali padamu
– Hargai orang lain
– Hidup tidak melulu tentangmu
– Berbagi agar merasakan yang lebih
– Tidak ada yang sia-sia, dan masih banyak lainnya.

Perdalami ilmu, nilai atau keyakinan sesuai kepercayaanmu masing-masing. Tidak perlu mengolok-olok atau menyalahkan nilai dan keyakinan orang lain. Yang baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain.

Ingat, kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh orang lain. Kita yang menentukan bagaimana kualitas hidup yang ingin kita capai. Mungkin untuk sebagian orang yang belum tau atau belum merasakan perlunya makan makanan sehat bernutrisi dan halal, mereka tidak akan peduli tentang itu. Karena untuk makan besok pagi saja, mereka tidak yakin apakah ada uang untuk belanja.

Bersyukurlah anda-anda yang terlahir dengan privilese, yang tidak merasakan susah atas hidup anda. Jika sebelumnya anda tidak terlahir dengan privilese, mari kita sama-sama berusaha mempersiapkan privilese untuk generasi penerus kita. Generasi yang memiliki kemampuan lebih baik dari kita. Dapat bertahan hidup dengan cara dan kualitas yang lebih baik, dapat berkomunikasi dengan baik dan santun. Memiliki literasi mengenai finansial dan kemampuan finansial yang baik dalam mengolah dan membelanjakan hartanya. Sadar penuh dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya dan keturunannya kelak. Paham hukum dengan baik, sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan atau kemampuannya nanti. Dan tetap berada di koridor agama, sesuai batasan dan nilai-nilai baik yang diyakini. Salam!